LANGIT7.ID - , Jakarta - Berbicara tentang paparan
sinar matahari atau ultraviolet (UV), Anda mungkin tak asing dengan istilah UV-A, UV-B, dan UV-C. Ketiga jenis tersebut merupakan jenis radiasi pancaran
matahari.
Meski sama-sama jenis radiasi matahari, UV-A, UV-B, dan UV-C memiliki perbedaan klasifikasi, sesuai panjang gelombang hingga dampaknya bagi manusia dan kehidupan di bumi. Jelasnya, berikut perbedaan UV-A, UV-B, dan UV-C.
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI), Cahyarini mengatakan, ada dua radiasi matahari yang menyentuh bumi, yaitu UV-A dan UV-B. Meski demikian, ada perbedaan signifikan dari UV-A dan UV-B.
Baca juga: Efek Sinar Biru Akibat Screen Time, Apakah Kacamata Radiasi Bisa Mengatasinya?"UV A dan UV B memiliki perbedaan yang cukup signifikan mulai dari sifatnya serta dampak yang diberikan pada kulit. Dari panjang gelombangnya saja, UV-A memiliki gelombang paling panjang, yaitu 380-315 nm sehingga mampu menembus
lapisan ozon," ucap Cahyarini, dalam Tought Leadership Forum Signify Indonesia, Selasa (25/10/2022).
UV-A memiliki dampak berkepanjangan pada kulit, seperti kulit kendur,
penuaan dini, hingga
kanker kulit. Paparan UV-A mampu menembus lapisan kulit atau dermis sehingga merusak struktur di dalamnya.
Sementara itu, UV-B gelombangnya lebih pendek (315-280 nm) yang dapat memberi dampak langsung pada kulit, seperti terbakar, iritasi, dan hiperpigmentasi. Paparan UV-B hanya mencapai lapisan kulit terluar (epidermis).
"Lalu ada lagi UV-C yang merupakan paparan sinar matahari dengan gelombang terpendek. Sinar UV-C tidak dapat ke permukaan bumi karena terhalang lapisan ozon di atmosfer," tutur Cahyarani.
Meski gelombang UV-C pendek, Cahyarani menjelaskan, jika sinar satu ini dapat menembus lapisan ozon, terdapat dampak buruk pada kulit, seperti luka bakar, cedera mata, kanker kulit, hingga katarak.
Baca juga: Minim Butuh Sinar Matahari, 7 Tanaman Gantung Cocok untuk Indoor"Ini karena tingginya pancaran energi sinar UV-C. Oleh karena itu sekarang banyak teknologi pembunuh virus dan bakteri yang diformulasikan dengan sinar UV-C buatan," ungkapnya.
Namun dalam pengaplikasiannya, teknologi UV-C buatan untuk pembunuh virus harus dilakukan oleh ahli tertentu. Meski buatan, UV-C secara langsung juga dapat menyebabkan dampak buruk bagi kulit.
"Jadi pengaplikasiannya dikemas di dalam tabung khusus sehingga mirip dengan lampu fluoresen. Aplikasi dapat berupa
In-duct air disinfection,
upper-room air disinfection, atau
portable room disinfection," kata Cahyarani.
Cara Melindungi Kulit dari Radiasi UV
Mengutip dari CDC, Anda dapat mengurangi risiko kerusakan kulit akibat sinar matahari dengan menggunakan
sunscreen atau tabir surya dengan Sun Protection Factor atau SPF.
Baiknya menggunakan SPF dengan angka lebih tinggi untuk perlindungan, seperti SPF 15 atau lebih. Jangan lupa untuk mengaplikasikan ulang SPF setiap dua jam sekali, jika Anda berkeringat.
(est)