LANGIT7.ID-US; Esai ini berdasarkan percakapan dengan Rich Colorado (87 tahun) yang pensiun tepat di ulang tahunnya yang ke-65. Colorado mengaku tidak pernah berinvestasi saham atau merencanakan masa pensiun, tapi tetap hidup hemat hingga kini memiliki lebih dari Rp19,5 miliar. Ia masih bermain bowling tiga kali seminggu dan mengajar catur di kota tempat tinggalnya di California. Wawancara ini telah disunting untuk kepentingan panjang dan kejelasan.
Saya tidak pernah berinvestasi saham. Uang saya selalu saya simpan dalam deposito dengan bunga 4-5%. Uang itu terus bertumbuh tanpa usaha. Sungguh menakjubkan bisa memiliki sebanyak ini padahal tidak pernah merencanakannya. Sekitar Rp11,25 miliar saya simpan dalam bentuk tunai, sementara rumah saya bernilai Rp9 miliar.
Saya berasal dari El Salvador dan pindah ke AS tahun 1946. Pekerjaan tetap pertama saya adalah di tempat bowling pada 1958. Saya tidak kuliah. Selama 17 tahun, saya bekerja di industri bowling. Suatu hari, tempat kerja saya tiba-tiba dikunci karena gagal bayar pajak, sehingga saya kehilangan pekerjaan itu.
Saya membesarkan empat putra bersama istri yang bekerja 41 tahun di Santa Rosa City Schools.
Pekerjaan berikutnya saya selama 27 tahun adalah sebagai teknisi timbangan. Saya belajar sendiri karena punya dasar mekanik dan kemampuan analitis. Saya langsung datang ke kantor dan menyatakan ingin bekerja. Mereka memanggil saya untuk masa percobaan dua minggu—dan akhirnya saya dipertahankan.
Awalnya saya bekerja sebagai reparator Kitchenaid, lalu beralih ke perbaikan mesin di supermarket. Akhirnya saya menjadi teknisi timbangan dan mengambil kelas elektronik untuk peralatan timbangan.
Saya pensiun tahun 2002. Sehari sebelum ulang tahun ke-65, bos memanggil saya dan mengatakan posisi saya dihapus karena timbangan jarang rusak sekarang. Sesampainya di rumah, saya mengetik surat pensiun dan menyerahkannya keesokan harinya.
Beberapa tahun kemudian, mantan rekan kerja menawari saya pekerjaan paruh waktu. Saya menolak: "Jika dulu tidak membutuhkan saya, sekarang pun tidak."
Tetap Produktif di Masa PensiunSaya hobi bowling seumur hidup dan masih melakukannya tiga kali seminggu. Badan saya ramping karena dulu bermain dan melatih sepak bola selama 27 tahun dengan lisensi nasional dari Federasi Sepak Bola AS. Saya juga tidak merokok atau minum alkohol.
Teman-teman saya sudah sepuh, dan saya hampir yang tertua. Ada seorang wanita berusia 96 tahun. Dulu saat baru pensiun di usia 65, saya memandangi mereka dan berpikir, "Wah, banyak sekali orang tua di sini." Kini mereka sudah tiada, dan sayalah yang tertua.
Saya masih mengajar catur sejak pertama kali main tahun 1952. Saya pernah mengajar gratis di sekolah Santa Rosa, tapi pihak sekolah memaksa membayar saya. Keempat putra saya semua bisa main catur. Hingga kini saya masih mengajar anak-anak di perpustakaan setiap Rabu.
Saya juga mengambil kelas gratis di community college untuk lansia, seperti HTML dan gitar. Saat ini saya mengikuti kelas menulis dan film. Dulu sempat ikut kelas piano sebelum terjatuh dan tidak bisa lagi bermain.
Di awal masa pensiun, istri saya masih bekerja. Kami jarang traveling kecuali berkunjung ke San Diego, dan tidak pernah ke luar negeri. Istri saya kemudian terkena demensia dan meninggal di rumah ini. Saya berada di sampingnya saat napas terakhir. Saya sangat merindukannya. Terkadang saya masih menengok ke sofa tempatnya biasa duduk.
Rumah dan WarisanSaya membeli rumah ini tahun 1969 seharga Rp273 juta dan menetap di sini sejak itu. Dari sekitar 200 rumah di lingkungan ini, hanya tersisa satu-dua orang yang masih tinggal sejak 1969. Saya ingin meninggal di sini. Tidak ada yang merencanakan kematian, tapi usia saya semakin dekat.
Mengelola Keuangan PensiunBanyak orang bilang butuh banyak uang untuk pensiun. Saya tidak merencanakannya—semua terjadi begitu saja. Saya dan istri hidup hemat. Saya tidak membiayai kuliah anak-anak; mereka mandiri. Salah satu putra saya bahkan menolak bantuan: "Saya lebih kaya dari Ayah. Gunakan uang itu untuk liburan."
Anak-anak saya memang lebih mapan dibanding masa kecil mereka dulu. Dulu kami mengandalkan kupon makanan untuk bertahan. Saat membeli rumah ini, istri bersikeras: "Kita punya empat anak, tidak bisa terus mengontrak." Dia ingin saya bekerja di tempat lain dengan gaji lebih baik, tapi saya menolak dan memilih bekerja serabutan di sekitar sini.
Mobil terakhir istri dibeli tahun 2003 dengan jarak tempuh hanya 112.000 km sebelum diberikan ke cucu perempuan saya. Saya sendiri membeli mobil bekas pakai uang tunai setelah pensiun—Scion tahun 2003 yang kemudian ditabrak pengemudi mabuk. Sekarang saya masih menggunakan Scion pengganti dengan jarak tempuh 96.000 km.
Saya tidak tahu perusahaan menyediakan IRA dan 401(k). Begitu mengetahuinya, saya menyetor 15% gaji. Saat pensiun, saya menerima IRA kecil dan menyimpannya di bank. Tahun 2008, saya rugi Rp225 juta saat pasar saham jatuh. Saya memindahkan dana ke bank baru yang menawarkan bunga 5% dan bertahan di sana selama resesi.
Beberapa bank rutin menawarkan deposito baru, tapi saya selalu menolak: "Terlalu ribet. Pertahankan saja selama bunganya di atas 5%." Saya juga rutin menyumbang ke beberapa lembaga amal, meski sekarang banyak yang mulai meminta dan harus saya tolak.
Saya sudah membuat perwalian untuk membagi warisan ke tujuh cucu. Bulan ini saya sedang merevisi perwalian agar pembagiannya lebih mudah tanpa sengketa. Masing-masing anak bisa menerima Rp2,25 miliar, dan salah satu keluarga harus menempati rumah saya karena pajaknya hanya Rp9 juta/tahun.
Saya bingung bagaimana menghabiskan uang ini. Tidak ada yang mengatur. Orang bilang harus punya tabungan pensiun tertentu, tapi uang saya lebih dari cukup dan tidak pernah terganggu. Sekarang saya memberi Rp75 juta untuk masing-masing cucu.(*/saf/businessinsider)
(lam)