Muslim di Barcelona, Minoritas yang Menghadapi Isu Kewargaan
Muhajirin
Jum'at, 14 Januari 2022 - 17:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Siapa tak kenal Barcelona? Dengan klub sepakbolanya yang kesohor, Barcelona adalah kota utama di Catalonia, salah satu Comunidad Autónoma (Komunitas Otonom) di negara bagian Spanyol. Ada 300 ribu muslim yang kebanyakan imigran Pakistan, Maroko, Bangladesh, Aljazair, Nigeria dan Senegal, menempati kota itu.
Komunitas muslim terbesar di Barcelona berasal dari imigran Pakistan lalu disusul oleh Maroko. Di Barcelona terdapat sebuah distrik khusus Muslim yakni Ciutat Vella, terutama di lingkungan administratif Raval.
Masjid Agung pertama kali dibuka di sana pada 1988, atas inisiasi Asociación Gran Mezquita de Barcelona (Asosiasi Masjid Agung Barcelona). Namun langkah awal pembangunan masjid agung baru dilakukan satu dekade kemudian.
Pada 1999, salah seorang muslim, Mowafak Kanfach, mengajukan proposal kepada dewan kota untuk membangun masjid dengan investasi langsung dari Pangeran Arab Saudi, Abdullah Bin Abdul Aziz. Tetapi masalah pertama muncul dengan oposisi dari anggota dewan kota dan meningkatnya perpecahan internal komunitas Muslim di Barcelona.
Sebagian umat Islam di Barcelona menginginkan pembangunan masjid agung dan sebagian lagi lebih memilih pembuatan mushola, sebab tempat tinggal populasi muslim terbesar di kota itu hanya memiliki mushola dan masjid kecil.
Dua pandangan itu sebenarnya memiliki tujuan yang sama. Mereka lebih mengutamakan kualitas ibadah dan relasi antar masyarakat. Pada 1983, ada empat tempat ibadah yang terdaftar secara resmi di Barcelona, jumlahnya meningkat pada tahun 2008 menjadi empat belas dan pada 2010 menjadi enam belas.
Salah satu ciri utama muslim di Barcelona yakni perbedaan pemahaman. Ada dua kelompok yang saling berseberangan, yakni sunni dan syiah. Meski begitu, penduduk muslim yang memiliki pemahaman sunni jauh lebih besar ketimbang syiah.
Komunitas muslim terbesar di Barcelona berasal dari imigran Pakistan lalu disusul oleh Maroko. Di Barcelona terdapat sebuah distrik khusus Muslim yakni Ciutat Vella, terutama di lingkungan administratif Raval.
Masjid Agung pertama kali dibuka di sana pada 1988, atas inisiasi Asociación Gran Mezquita de Barcelona (Asosiasi Masjid Agung Barcelona). Namun langkah awal pembangunan masjid agung baru dilakukan satu dekade kemudian.
Pada 1999, salah seorang muslim, Mowafak Kanfach, mengajukan proposal kepada dewan kota untuk membangun masjid dengan investasi langsung dari Pangeran Arab Saudi, Abdullah Bin Abdul Aziz. Tetapi masalah pertama muncul dengan oposisi dari anggota dewan kota dan meningkatnya perpecahan internal komunitas Muslim di Barcelona.
Sebagian umat Islam di Barcelona menginginkan pembangunan masjid agung dan sebagian lagi lebih memilih pembuatan mushola, sebab tempat tinggal populasi muslim terbesar di kota itu hanya memiliki mushola dan masjid kecil.
Dua pandangan itu sebenarnya memiliki tujuan yang sama. Mereka lebih mengutamakan kualitas ibadah dan relasi antar masyarakat. Pada 1983, ada empat tempat ibadah yang terdaftar secara resmi di Barcelona, jumlahnya meningkat pada tahun 2008 menjadi empat belas dan pada 2010 menjadi enam belas.
Salah satu ciri utama muslim di Barcelona yakni perbedaan pemahaman. Ada dua kelompok yang saling berseberangan, yakni sunni dan syiah. Meski begitu, penduduk muslim yang memiliki pemahaman sunni jauh lebih besar ketimbang syiah.