LANGIT7.ID, Jakarta - Siapa tak kenal Barcelona? Dengan klub sepakbolanya yang kesohor, Barcelona adalah kota utama di Catalonia, salah satu
Comunidad Autónoma (Komunitas Otonom) di negara bagian Spanyol. Ada 300 ribu muslim yang kebanyakan imigran Pakistan, Maroko, Bangladesh, Aljazair, Nigeria dan Senegal, menempati kota itu.
Komunitas muslim terbesar di Barcelona berasal dari imigran Pakistan lalu disusul oleh Maroko. Di Barcelona terdapat sebuah distrik khusus Muslim yakni Ciutat Vella, terutama di lingkungan administratif Raval.
Masjid Agung pertama kali dibuka di sana pada 1988, atas inisiasi
Asociación Gran Mezquita de Barcelona (Asosiasi Masjid Agung Barcelona). Namun langkah awal pembangunan masjid agung baru dilakukan satu dekade kemudian.
Pada 1999, salah seorang muslim, Mowafak Kanfach, mengajukan proposal kepada dewan kota untuk membangun masjid dengan investasi langsung dari Pangeran Arab Saudi, Abdullah Bin Abdul Aziz. Tetapi masalah pertama muncul dengan oposisi dari anggota dewan kota dan meningkatnya perpecahan internal komunitas Muslim di Barcelona.
Sebagian umat Islam di Barcelona menginginkan pembangunan masjid agung dan sebagian lagi lebih memilih pembuatan mushola, sebab tempat tinggal populasi muslim terbesar di kota itu hanya memiliki mushola dan masjid kecil.
Dua pandangan itu sebenarnya memiliki tujuan yang sama. Mereka lebih mengutamakan kualitas ibadah dan relasi antar masyarakat. Pada 1983, ada empat tempat ibadah yang terdaftar secara resmi di Barcelona, jumlahnya meningkat pada tahun 2008 menjadi empat belas dan pada 2010 menjadi enam belas.
Salah satu ciri utama muslim di Barcelona yakni perbedaan pemahaman. Ada dua kelompok yang saling berseberangan, yakni sunni dan syiah. Meski begitu, penduduk muslim yang memiliki pemahaman sunni jauh lebih besar ketimbang syiah.
Hanya saja, kelompok syiah juga aktif di ruang publik. Mereka merayakan Asyura dengan demonstrasi di jalan-jalan Barcelona dengan beberapa batasan, seperti dilarang melakukan ritual pencambukan dengan pertumpahan darah selama demonstrasi publik.
Selain dua kelompok itu, ada pula umat Islam yang memilih jalan sufi. Kelompok ini didominasi oleh penduduk lokal. Muslim pendatang hanya sebagian kecil saja. Salah satu pusat Sufi ini adalah
Instituto de Estudios Sufíes, didirikan pada 1998, yang mengikuti tarekat Maulawiyah.
Asosiasi lain yang didirikan di Barcelona adalah
Centro Sufí de Barcelona yang didirikan pada tahun 2000 dan terkait dengan tarekat Naqsyabandiyah.
Kehidupan KewarganegaraanPembentukan asosiasi Islam di Barcelona telah melalui proses yang panjang. Ada berbagai masyarakat Muslim berorganisasi di Barcelona seperti perkumpulan hingga organisasi Muslim internasional.
Asosiasi-asosiasi ini dibuat tanpa terdaftar secara resmi di awal sampai mereka menemukan stabilitasnya. Banyak dari paguyuban ini terdaftar sebagai paguyuban budaya, bukan sebagai entitas keagamaan. Ini karena perkumpulan budaya lebih mudah didaftarkan ketimbang perkumpulan keagamaan.
Upaya pembentukan asosiasi pertama terjadi pada 1974 dengan pembentukan
Asociación de Amistad con los Pueblos rabes Bayt al-Thaqafa dan pembukaan kantor lokal
Centro Islámico de Madrid.Fenomena ini kemudian berkembang dengan pembentukan asosiasi lain: Amical de
Trabajadores y Comerciantes Marroquíes en Barcelona (1979). (Amical adalah asosiasi yang sangat relevan di Barcelona karena bekerja dengan imigran Maroko) dan
Casa y Centro Islámico de Pakistán (1981).
(jqf)