LANGIT7.ID- Laga yang seharusnya biasa saja bagi tim nasional Spanyol saat menjamu Mesir di kandang pada 31 Maret 2026 lalu, justru berubah menjadi momen yang menyingkap sekaligus sangat tidak nyaman — sebuah momen yang menempatkan bintang striker Lamine Yamal di pusat percakapan yang lebih luas tentang identitas, keyakinan, dan rasa memiliki.
Yamal bukan sekadar bintang muda paling cemerlang milik Spanyol. Ia juga salah satu simbol keragaman budaya dan agama yang paling mencolok di negeri itu. Di usianya yang baru 18 tahun, ia telah menjadi pemain yang tak tergantikan bagi tim nasional Spanyol saat mereka bersiap menghadapi Piala Dunia musim panas ini. Namun selama laga tanpa gol melawan Mesir di Barcelona, sorotan beralih dari bakatnya ke sesuatu yang jauh lebih personal: keyakinan Muslimnya.
Saat nyanyian bergema dari sebagian besar penonton — "siapa yang tidak melompat adalah seorang Muslim" — ketidakselarasan itu terlihat jelas. Di satu sisi, pemain paling memukau milik Spanyol — seorang Muslim yang bangga — berlaga membela negaranya di lapangan, sementara ribuan orang di tribun menggunakan agamanya sebagai bahan olok-olokan. Meskipun nyanyian itu tampaknya ditujukan kepada tim lawan, makna yang lebih luas darinya tidak bisa dihindari.
Bagi Yamal, ini bukanlah persoalan abstrak. Responsnya sehari setelah pertandingan menunjukkan hal itu dengan sangat jelas. Ia tidak meledak-ledak atau memperkeruh perdebatan, tetapi ia melakukan sesuatu yang bisa dibilang lebih kuat: menegaskan jati dirinya. Ia memposting pernyataan berikut di Instagram:
"Saya seorang Muslim, alhamdulillah. Kemarin di stadion, kami mendengar nyanyian 'siapa yang tidak melompat adalah seorang Muslim'. Saya tahu itu ditujukan kepada tim lawan dan tidak tertuju pada saya secara pribadi, tetapi sebagai seorang Muslim, hal itu tetaplah sebuah bentuk ketidakhormatan dan sesuatu yang tidak bisa kami toleransi.
"Saya paham tidak semua suporter seperti itu, tetapi bagi mereka yang melantunkan nyanyian itu: menggunakan agama sebagai bahan ejekan di stadion sepak bola menjadikan kalian orang-orang yang bodoh dan rasis. Sepak bola adalah untuk menikmati dan mendukung, bukan untuk menyinggung orang lain karena siapa mereka atau apa yang mereka yakini."
![Sang Bintang Lamine Yamal, Islam, dan Simbol Keagamaan yang Semakin Terlihat di Sepak Bola Spanyol]()
Respons itu penting, terutama karena Yamal tidak pernah memperlakukan keyakinan Islamnya sebagai hal yang sekunder dibandingkan siapa dirinya sebagai pemain dan pribadi. Ia telah berbicara secara terbuka tentang menjalankan ibadah puasa Ramadan, meskipun di tengah tuntutan fisik menjadi pesepak bola profesional. Dalam olahraga di mana keuntungan sekecil apa pun sangat berarti dan kondisi fisik diperhatikan hingga ke detail terkecil, memilih untuk berpuasa adalah sebuah pernyataan pribadi sekaligus publik.
Latar belakang Yamal memperkuat kompleksitas ini. Lahir di Spanyol dari ayah Maroko dan ibu dari Guinea Ekuatorial, ia mewakili banyak budaya sekaligus. Hubungannya dengan Maroko — negara yang akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal — bukan sekadar simbolis. Ia pernah berbicara tentang pentingnya ikatan keluarganya sebagai fondasi jati dirinya. Semua pengaruh ini tidak terpisah dari karier sepak bolanya, tetapi justru ikut membentuknya.
Inilah sebabnya mengapa nyanyian xenofobia di Barcelona begitu terasa dampaknya. Nyanyian itu tidak hanya ofensif secara umum, tetapi juga menusuk inti dari apa yang diwakili oleh Yamal. Dalam banyak hal, ia adalah personifikasi dari tim Spanyol modern: beragam, terhubung secara global, dan mencerminkan masyarakat yang tengah berubah. Ketidakharmonisan antara realitas itu dan perilaku sebagian penonton sulit untuk diabaikan.
Ini bukan pertama kalinya Yamal menghadapi perlakuan seperti ini. Insiden-insiden sebelumnya, termasuk pelecehan yang secara eksplisit terkait dengan keyakinan Islamnya, menunjukkan adanya pola, bukan kejadian sekali saja. Dan ia tidak sendirian. Pemain seperti Vinícius Junior, pemain Brasil yang membela Real Madrid, telah berulang kali menjadi sasaran pelecehan rasis di Spanyol.
Masalah-masalah ini juga memunculkan pertanyaan tentang tanggung jawab. Federasi sepak bola Spanyol mengeluarkan peringatan selama pertandingan berlangsung, dan para petingginya kemudian menggambarkan nyanyian tersebut sebagai insiden terisolasi. Beberapa hari setelah kejadian, FIFA, badan pengatur sepak bola dunia, mengatakan akan menyelidiki apa yang terjadi.
Bagi sebuah negara yang bersiap menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia mendatang — dan melakukannya bersama negara dengan penduduk mayoritas Muslim — implikasinya sangat signifikan. Turnamen tersebut akan dipasarkan sebagai perayaan persatuan global, keragaman, dan gairah bersama. Pemain seperti Yamal menjadi pusat dari visi tersebut. Tetapi momen-momen seperti ini memperlihatkan celah antara cita-cita dan kenyataan.(*/saf/religionunplugged/clemente lisi)
(lam)