Masalah Umat Islam Kini Tak Lagi Mengutamakan Tradisi Keilmuan
Muhajirin
Selasa, 18 Januari 2022 - 14:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Rektor Universitas Darussalam, Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi, menjabarkan penyebab utama umat Islam pada era modern mengalami kemunduran. Umat Islam kini lebih senang mengulik romantisme kejayaan masa lalu, hingga lupa membangun peradaban.
Hamid menilai permasalahan tersebut harus menjadi bahan introspeksi agar kejayaan peradaban Islam bisa diwujudkan kembali.
"Prestasi intelektual muslim dalam bidang sains dan humaniora masih kalah dengan intelektual non muslim. Peraih hadiah Nobel didominasi non muslim," kata Hamid, dikutip kanal YouTube Orbit TV, Selasa (18/1/2022).
Tak hanya itu, produktivitas saintis muslim masa kini kalah jauh dibanding saintis muslim masa lalu. Perpustakaan pribadi milik Shihab bin Ibad di masa lalu memiliki 200 ribu koleksi buku. Begitu pula perpustakaan Al-Waqidi yang mengoleksi 600 qimathr (jilid). Ibnu Aqil bahkan mengarang kitab al-Funun sebanyak 800 jilid.
"Setiap hari, dia (Ibnu Aqil) menulis 80 halaman," kata Hamid. Dalam Tarikh Islam disebutkan, Imam al-Dzahabi mengatakan, "Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya (kitab Al-Funun)."
Dalam tradisi membaca pun demikian. Para ulama merupakan sosok penggila baca. Al-Hafidz Abul 'Alaa al-Hamadzazniy menjual rumah seharga 60 ribu dinar (sekitar 1 Miliar) untuk membeli kitab-kitab Ibnul Jawaliqy.
Di Indonesia, penerbitan buku hanya 30 ribu buku. Jumlah ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan China yang mencapai 440 ribu, Amerika 304 ribu buku, Inggris 184 ribu buku, dan India 90 ribu buku.
Hamid menilai permasalahan tersebut harus menjadi bahan introspeksi agar kejayaan peradaban Islam bisa diwujudkan kembali.
"Prestasi intelektual muslim dalam bidang sains dan humaniora masih kalah dengan intelektual non muslim. Peraih hadiah Nobel didominasi non muslim," kata Hamid, dikutip kanal YouTube Orbit TV, Selasa (18/1/2022).
Tak hanya itu, produktivitas saintis muslim masa kini kalah jauh dibanding saintis muslim masa lalu. Perpustakaan pribadi milik Shihab bin Ibad di masa lalu memiliki 200 ribu koleksi buku. Begitu pula perpustakaan Al-Waqidi yang mengoleksi 600 qimathr (jilid). Ibnu Aqil bahkan mengarang kitab al-Funun sebanyak 800 jilid.
"Setiap hari, dia (Ibnu Aqil) menulis 80 halaman," kata Hamid. Dalam Tarikh Islam disebutkan, Imam al-Dzahabi mengatakan, "Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya (kitab Al-Funun)."
Dalam tradisi membaca pun demikian. Para ulama merupakan sosok penggila baca. Al-Hafidz Abul 'Alaa al-Hamadzazniy menjual rumah seharga 60 ribu dinar (sekitar 1 Miliar) untuk membeli kitab-kitab Ibnul Jawaliqy.
Di Indonesia, penerbitan buku hanya 30 ribu buku. Jumlah ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan China yang mencapai 440 ribu, Amerika 304 ribu buku, Inggris 184 ribu buku, dan India 90 ribu buku.