Menelusuri Silsilah KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah Keturunan Walisongo
Muhajirin
Kamis, 20 Januari 2022 - 15:00 WIB
Lukisan KH Ahmad Dahlan (foto: schmu.id)
Nama KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sangat masyhur di tengah masyarakat Indonesia. Namun, tak banyak yang tahu jika ulama kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, itu merupakan keturunan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), salah satu walisongo.
Putra KH Abubakar itu terlahir dengan nama Muhammad Darwisy. Kawasan tempat Darwisy lahir berada tak jauh dari Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Sang ayah merupakan Imam dan Khatib terkemuka di masjid itu.
Mengutip laman Penulis Anwar Djaelani di blog-nya, Darwisy merupakan keturunan kedua belas Sunan Gresik. Sejak masa kanak-kanak, ia dikenal memiliki perhatian besar kepada agama. Dia pandai bergaul dan mempunyai jiwa sosial tinggi.
Darwisy sudah belajar agama di pesantren saat masih berumur 7 tahun. Pada 1883, saat berusia 15 tahun, dia berangkat ke Mekkah untuk berhaji sekaligus belajar selama 5 tahun. Di sana, ia dikenal sebagai murid yang cerdas dan pandai bergaul.
Darwisy pulang ke Tanah Air pada 1888. Dia diangkat menjadi pegawai Masjid Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Khatib Amin. Selang beberapa tahun, pada 1902, ia kembali ke Tanah Suci. Ia memperdalam ilmu agama di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu. Salah satu hal yang didalaminya adalah pemikiran Muhammad Abduh, seorang pembaharu Islam asal Mesir.
Di Mekkah, ia bersahabat dengan Ahmad Khatib Minangkabawi. Ia pernah terlibat diskusi dengan sang sahabat. "Pengajaran Islam di Indonesia sudah jauh ketinggalan zaman, (sehingga) harus diperbaharui, harus dengan cara modern. Agama Islam itu sebenarnya agama kemajuan. Dapat sesuai dengan zaman baru," kata Ahmad Khatib Minangkabawi kepada Darwisy.
"itu tepat sekali. Memang banyak hal yang perlu diketahui dalam mengajarkan Islam," timpah Darwisy.
Putra KH Abubakar itu terlahir dengan nama Muhammad Darwisy. Kawasan tempat Darwisy lahir berada tak jauh dari Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Sang ayah merupakan Imam dan Khatib terkemuka di masjid itu.
Mengutip laman Penulis Anwar Djaelani di blog-nya, Darwisy merupakan keturunan kedua belas Sunan Gresik. Sejak masa kanak-kanak, ia dikenal memiliki perhatian besar kepada agama. Dia pandai bergaul dan mempunyai jiwa sosial tinggi.
Darwisy sudah belajar agama di pesantren saat masih berumur 7 tahun. Pada 1883, saat berusia 15 tahun, dia berangkat ke Mekkah untuk berhaji sekaligus belajar selama 5 tahun. Di sana, ia dikenal sebagai murid yang cerdas dan pandai bergaul.
Darwisy pulang ke Tanah Air pada 1888. Dia diangkat menjadi pegawai Masjid Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Khatib Amin. Selang beberapa tahun, pada 1902, ia kembali ke Tanah Suci. Ia memperdalam ilmu agama di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW itu. Salah satu hal yang didalaminya adalah pemikiran Muhammad Abduh, seorang pembaharu Islam asal Mesir.
Di Mekkah, ia bersahabat dengan Ahmad Khatib Minangkabawi. Ia pernah terlibat diskusi dengan sang sahabat. "Pengajaran Islam di Indonesia sudah jauh ketinggalan zaman, (sehingga) harus diperbaharui, harus dengan cara modern. Agama Islam itu sebenarnya agama kemajuan. Dapat sesuai dengan zaman baru," kata Ahmad Khatib Minangkabawi kepada Darwisy.
"itu tepat sekali. Memang banyak hal yang perlu diketahui dalam mengajarkan Islam," timpah Darwisy.