AR Sutan Mansur, Imam Muhammadiyah Guru Bung Karno
Muhajirin
Kamis, 20 Januari 2022 - 20:02 WIB
AR Sutan Mansur (foto: pwmu.co)
Ahmad Rasyid Sutan Mansur (Buya AR Sutan Mansur) lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada 26 Jumadil Akhir 1313 H/15 Desember 1895 M. Ia putra dari ulama terkenal di Maninjau yakni Abdul Somad al-Kusaji dan sang ibu, Siti Abbasiyah (Uncu Lampur). Keduanya merupakan tokoh dan guru agama di kampung Ai Angek (Air Hangat), Maninjau.
Buya AR Sutan Mansur tumbuh dengan pendidikan agama yang kuat. Itu menjadi salah satu alasan karakter anti penjajahan melekat pada kakak Ipar Buya Hamka tersebut. Ia menikahi putri sang guru, Dr Karim Amrullah yang bernama Fatimah serta diberi gelar Sutan Mansur pada 1917.
Setelah itu, ia dikirim ke Kuala Simpang, Aceh untuk mengajar. Setelah dua tahun di sana (1918-1919) ia kembali ke Maninjau. Ia sebenarnya hendak melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar Mesir, namun terjadi pemberontakan melawan Inggris. Ia pun tak diizinkan berangkat oleh pemerintah kolonial Belanda.
Jadi Imam Muhammadiyah di Sumatera
Setelah gagal ke Al-Azhar, AR Sutan Mansur berangkat ke Pekalongan untuk berdagang dan menjadi guru agama di daerah itu. Ia sering dilanda kegelisahan karena menginginkan perubahan dan pembaharuan ajaran Islam.
Dari situ, ia berinteraksi dengan KH Ahmad Dahlan di Pekalongan. Interaksi tersebut membuat ia tertarik bergabung ke Persyarikatan Muhammadiyah pada 1922. Ia lalu mendirikan Perkumpulan Nurul Islam bersama para pedagang dari Sungai Batang, Maninjau yang telah bergabung Muhammadiyah di Pekalongan.
AR Sutan Mansur tertarik masuk ke Muhammadiyah karena memiliki kesamaan visi. Ia ingin membawa pembaharuan di Sumatera Barat agar umat Islam kembali ke ajaran tauhid dan membersihkan agama dari karat-karat adat-tradisi. Ia menilai adat-tradisi itu membuat umat Islam terbelakang dan tertinggal.
Buya AR Sutan Mansur tumbuh dengan pendidikan agama yang kuat. Itu menjadi salah satu alasan karakter anti penjajahan melekat pada kakak Ipar Buya Hamka tersebut. Ia menikahi putri sang guru, Dr Karim Amrullah yang bernama Fatimah serta diberi gelar Sutan Mansur pada 1917.
Setelah itu, ia dikirim ke Kuala Simpang, Aceh untuk mengajar. Setelah dua tahun di sana (1918-1919) ia kembali ke Maninjau. Ia sebenarnya hendak melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar Mesir, namun terjadi pemberontakan melawan Inggris. Ia pun tak diizinkan berangkat oleh pemerintah kolonial Belanda.
Jadi Imam Muhammadiyah di Sumatera
Setelah gagal ke Al-Azhar, AR Sutan Mansur berangkat ke Pekalongan untuk berdagang dan menjadi guru agama di daerah itu. Ia sering dilanda kegelisahan karena menginginkan perubahan dan pembaharuan ajaran Islam.
Dari situ, ia berinteraksi dengan KH Ahmad Dahlan di Pekalongan. Interaksi tersebut membuat ia tertarik bergabung ke Persyarikatan Muhammadiyah pada 1922. Ia lalu mendirikan Perkumpulan Nurul Islam bersama para pedagang dari Sungai Batang, Maninjau yang telah bergabung Muhammadiyah di Pekalongan.
AR Sutan Mansur tertarik masuk ke Muhammadiyah karena memiliki kesamaan visi. Ia ingin membawa pembaharuan di Sumatera Barat agar umat Islam kembali ke ajaran tauhid dan membersihkan agama dari karat-karat adat-tradisi. Ia menilai adat-tradisi itu membuat umat Islam terbelakang dan tertinggal.