Hati-hati, Gaslighting dalam Hubungan Asmara Bentuk Kekerasan Psikis
Fifiyanti Abdurahman
Jum'at, 21 Januari 2022 - 16:15 WIB
Ilustrasi gaslighting dalam hubungan rumah tangga. Foto: LANGIT7/iStock
Belakangan istilah gaslighting banyak berseliweran di dunia maya dan kehidupan sosial. Gaslighting dalam sebuah hubungan asmara bisa terjadi pada siapa saja.
Menurut Healthline, istilah gaslighting adalah bentuk pelecehan emosional yang membuat Anda mempertanyakan keyakinan dan persepsi Anda tentang kenyataan.
Sederhananya, gaslighting kekerasan terhadap mental atau psikis seseorang dalam bentuk manipulasi guna mendapatkan kepentingan diri sendiri, sehingga membuat korban merasa tidak nyaman.
Baca juga: Kesetaraan dalam Islam, Kunci Kesuksesan Sebuah Rumah Tangga
Konsultan Psikolog, Muhammad Iqbal mengatakan perilaku gaslighting dalam hubungan dapat dikategorikan sebagai hubungan yang tidak sehat.
"Dalam hubungan percintaan maupun pertemanan, itu dinamakan toxic relationship yakni hubungan yang bermasalan, dan tentu saja tidak sehat,' katanya kepada Langit7, Jumat (21/1/22).
Para pelaku biasanya menggunakan teknik manipulasi yaitu membuat dirinya seolah-olah tidak bersalah. Dengan sifat ini korban yang akan merasa dirinya bersalah ucap Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana ini.
Menurut Healthline, istilah gaslighting adalah bentuk pelecehan emosional yang membuat Anda mempertanyakan keyakinan dan persepsi Anda tentang kenyataan.
Sederhananya, gaslighting kekerasan terhadap mental atau psikis seseorang dalam bentuk manipulasi guna mendapatkan kepentingan diri sendiri, sehingga membuat korban merasa tidak nyaman.
Baca juga: Kesetaraan dalam Islam, Kunci Kesuksesan Sebuah Rumah Tangga
Konsultan Psikolog, Muhammad Iqbal mengatakan perilaku gaslighting dalam hubungan dapat dikategorikan sebagai hubungan yang tidak sehat.
"Dalam hubungan percintaan maupun pertemanan, itu dinamakan toxic relationship yakni hubungan yang bermasalan, dan tentu saja tidak sehat,' katanya kepada Langit7, Jumat (21/1/22).
Para pelaku biasanya menggunakan teknik manipulasi yaitu membuat dirinya seolah-olah tidak bersalah. Dengan sifat ini korban yang akan merasa dirinya bersalah ucap Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana ini.