LANGIT7.ID, Jakarta - Bahtera rumah tangga tak selalu berlayar dengan mulus. Kadang ombak menghalang, kerap pula karang mencipta keretakan. Islam telah membahas secara kompleks mengenai masalah ini.
Masalah keretakan itu terurai dalam kisah pernikahan Zaid Bin Haritsah dan Zainab bin Jahsy. Zaid bin Haritsah adalah sahabat mulia. Ia merupakan satu-satunya sahabat yang disebutkan namanya dengan jelas dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam surah Al-Ahzab ayat 37.
Ayat itu menyampaikan sebuah perintah untuk mempertahankan rumah tangga. Namun menjadi pertanyaan besar alasan nama Zaid disebutkan secara jelas dalam ayat tersebut. Padahal ayat itu menceritakan kisah pilu keretakan rumah tangga Zaid.
Zaid menikahi sepupu Rasulullah, Zainab, seorang wanita yang terkenal cantik dan bernasab mulia, yakni Quraisy. Saat hendak menikah, Zaid pun dilamarkan oleh Rasulullah. Sebuah proses yang sangat mulia. Tak heran, sebab Zaid adalah putra angkat baginda Nabi Muhammad SAW.
Para ulama tafsir mengatakan, pernikahan Zaid dan Zainab hanya bertahan satu tahun. Setelah satu tahun berlalu, Zaid datang kepada Rasulullah untuk meminta izin menceraikan Zainab.
Rasulullah kala itu hanya menjawab, "Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah." (QS Al- Ahzab:37). Beliau tentu memiliki banyak pertimbangan. Terlebih pada masa itu, kafir Quraisy terus mencari-cari kesalahan Rasulullah.
"Di sinilah pelajaran yang luar biasa. Pernikahan dua orang mulia itu, bertemu dalam bahtera rumah tangga, yang seharusnya mulia tapi harus pisah. Itu menjadi tanda bahwa tidak cukup porang shaleh bertemu dengan seorang yang sholehah," kata pakar parenting nabawiyah, Ustadz Budi Ashari melalui kanal YouTube Ammar TV, dikutip Senin (17/1/2022).
Ada poin penting yang harus diperhatikan, yakni kesetaraan. Poin ini sangat penting untuk membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Kesetaraan dalam Rumah TanggaPernikahan tak cukup hanya bermodal shaleh dan shalehah saja. Meski dua modal itu sangat penting dan paling utama. Namun lebih utama adalah kesetaraan. Pernikahan bukan sekadar sah dan halal, tapi ada kebesaran yang tengah dibangun.
"Apa artinya sebuah rumah tangga hidup dalam kehidupan yang tidak satu visi. Inilah kesetaraan. kesetaraan itu awalnya adalah agama, keshalehan," kata Budi Ashari.
Penyebab utama keretakan rumah tangga Zaid dan Zainab adalah ketidaksetaraan. Zainab memiliki lisan yang sering menyebut-nyebut kemuliaannya. Dia cantik dan bernasab mulia. Sementara, Zaid hanya mantan budak yang dibeli dari pasar Habasyah dan bukan orang Arab.
"Tidak setara, jauh. Ketika ada ketidaknyamanan, dan tidak bisa disetarakan selama satu tahun pernikahan, maka yang terjadi adalah sang istri pun tidak kuasa untuk menjaga lisan untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang menunjukkan ketinggian dan kehebatan dirinya," tutur Budi Ashari.
Sementara laki-laki atau suami memiliki
qawwam (pemimpin). Ketika
qawwam seorang suami tidak tegak, maka kesabarannya bisa terkikis. Ini menjadi pemicu keretakan rumah tangga, meski keduanya adalah manusia shaleh dan shalehah.
Masalah ini sebenarnya sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Baginda nabi dan Khadijah tidak setara. Khadijah adalah bos, sementara Muhammad muda adalah karyawan. Namun, Khadijah mau menurunkan derajat dirinya di hadapan sang suami. Sehingga tidak terjadi keretakan dalam rumah tangga.
"Kita belajar, kita sebagai pasangan suami istri harus berusaha untuk menyetarakan antar kita. Namanya kita bertemu. Akan sangat bahaya ketika rumah tangga dalam keadaan tidak setara. Mari kita menyetarakan suami istri dalam kebaikan, dalam ilmu, dalam amal, mudah-mudahan Allah menyetarakan keluarga kita," ucap Budi Ashari.
(jqf)