Marak Pamer Kekayaan Sultan dan Crazy Rich, Profesor Ini Angkat Bicara
Muhajirin
Sabtu, 22 Januari 2022 - 14:48 WIB
Ilustrasi (foto: instagram)
Guru Besar bidang Ilmu Manajemen di Universitas Indonesia (UI), Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, mengungkapkan, sosial media saat ini menjadi sarana eksistensi diri.Tak jarang ditemukan konten-konten yang berisi pamer kekayaan. Ada yang membeli nasi goreng dengan harga Rp400 juta, hadiah pesawat jet pribadi, bergelar sultan hingga crazy rich.
"Sekarang ini banyak sekali orang yang katanya kaya, tapi kaya kok dipamer-pamerkan. Sejatinya orang kaya itu tidak berisik, mau membicarakan tentang kekayaan," kata Rhenald melalui akun youtube-nya, dikutip Sabtu (22/1/2022).
Orang-orang yang suka pamer ini disebut kaum flexing. Mereka menggunakan market signalling untuk mendatangkan crowd atau pun mencari sponsor. Tak heran jika mereka seringkali terlihat memamerkan kekayaan, menggunakan barang-barang mewah, hingga perhiasan.
"Kalau orang dulu barangkali emas di gigi, sekarang batu permata, cincin, kalung berkilau-kilau," katanya.
Padahal, kata dia, orang yang benar-benar kaya pasti menginginkan privasi. Ia tak ingin pamer. Ada banyak alasan. Salah satunya tak ingin disentil dirjen pajak. Orang kaya tidak ingin menjadi perhatian.
Ada istilah conspicuous consumption yakni konsumsi yang memang sengaja ditunjukkan kepada orang lain. Kaum flexing ini sengaja memamerkan mobil mewah dan barang mewah lainnya untuk menunjukkan kehebatan di media sosial.
"Ini adalah orang mengirim sinyal kepada orang lain bahwa dia adalah orang luar biasa. Ada pula orang yang menggunakan cara yang lebih soft, misalnya datang ke tempat praktik dokter, dia memasang di belakangnya sertifikat dari kampus terkenal, dan lain-lain," kata Rhenald.
"Sekarang ini banyak sekali orang yang katanya kaya, tapi kaya kok dipamer-pamerkan. Sejatinya orang kaya itu tidak berisik, mau membicarakan tentang kekayaan," kata Rhenald melalui akun youtube-nya, dikutip Sabtu (22/1/2022).
Orang-orang yang suka pamer ini disebut kaum flexing. Mereka menggunakan market signalling untuk mendatangkan crowd atau pun mencari sponsor. Tak heran jika mereka seringkali terlihat memamerkan kekayaan, menggunakan barang-barang mewah, hingga perhiasan.
"Kalau orang dulu barangkali emas di gigi, sekarang batu permata, cincin, kalung berkilau-kilau," katanya.
Padahal, kata dia, orang yang benar-benar kaya pasti menginginkan privasi. Ia tak ingin pamer. Ada banyak alasan. Salah satunya tak ingin disentil dirjen pajak. Orang kaya tidak ingin menjadi perhatian.
Ada istilah conspicuous consumption yakni konsumsi yang memang sengaja ditunjukkan kepada orang lain. Kaum flexing ini sengaja memamerkan mobil mewah dan barang mewah lainnya untuk menunjukkan kehebatan di media sosial.
"Ini adalah orang mengirim sinyal kepada orang lain bahwa dia adalah orang luar biasa. Ada pula orang yang menggunakan cara yang lebih soft, misalnya datang ke tempat praktik dokter, dia memasang di belakangnya sertifikat dari kampus terkenal, dan lain-lain," kata Rhenald.