LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar bidang Ilmu Manajemen di Universitas Indonesia (UI), Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, mengungkapkan, sosial media saat ini menjadi sarana eksistensi diri. Tak jarang ditemukan konten-konten yang berisi pamer kekayaan. Ada yang membeli nasi goreng dengan harga Rp400 juta, hadiah pesawat jet pribadi, bergelar sultan hingga crazy rich.
"Sekarang ini banyak sekali orang yang katanya kaya, tapi kaya kok dipamer-pamerkan. Sejatinya orang kaya itu tidak berisik, mau membicarakan tentang kekayaan," kata Rhenald melalui akun youtube-nya, dikutip Sabtu (22/1/2022).
Orang-orang yang suka pamer ini disebut kaum
flexing. Mereka menggunakan market signalling untuk mendatangkan
crowd atau pun mencari sponsor. Tak heran jika mereka seringkali terlihat memamerkan kekayaan, menggunakan barang-barang mewah, hingga perhiasan.
"Kalau orang dulu barangkali emas di gigi, sekarang batu permata, cincin, kalung berkilau-kilau," katanya.
Padahal, kata dia, orang yang benar-benar kaya pasti menginginkan privasi. Ia tak ingin pamer. Ada banyak alasan. Salah satunya tak ingin disentil dirjen pajak. Orang kaya tidak ingin menjadi perhatian.
Ada istilah
conspicuous consumption yakni konsumsi yang memang sengaja ditunjukkan kepada orang lain. Kaum
flexing ini sengaja memamerkan mobil mewah dan barang mewah lainnya untuk menunjukkan kehebatan di media sosial.
"Ini adalah orang mengirim sinyal kepada orang lain bahwa dia adalah orang luar biasa. Ada pula orang yang menggunakan cara yang lebih
soft, misalnya datang ke tempat praktik dokter, dia memasang di belakangnya sertifikat dari kampus terkenal, dan lain-lain," kata Rhenald.
Hal ini menjadi salah satu penyakit di era media sosial. Tak heran, media sosial menjanjikan setiap orang bisa terkenal. Itu pula yang mendasari budaya pamer-pamer kekayaan makin marak. Tak peduli perut kosong asal bisa beli
iphone, atau kredit menggunung demi mendapatkan mobil
sport.
Tak heran pula saat ini banyak ditemukan tempat penyewaan barang-barang mewah. Itu mudah ditemui. Di china, ada kursus khusus untuk orang-orang yang ingin tampil kaya namun tak memiliki kekayaan, hanya keperluan media sosial saja.
"Di era media sosial ini, banyak sekali orang muncul, tidak ada editor, semua orang bisa menjadi terkenal, kita menyaksikan, banyak youtuber menggunakan kekayaan, atau seakan-akan kaya, atau kalau mereka menyebutkan kaya, barangkali mereka belum kaya. inilah cara orang untuk mendapatkan perhatian. Beli barang mewah lalu dipamerkan," ucap Rhenald.
Orang yang benar-benar kaya itu mengedepankan kualitas dan manfaat suatu barang. Bukan membeli untuk dipamerkan. "Itu makanya, jarang terlihat orang-orang kaya beneran tampil di media sosial," pungkasnya.
(jqf)