Mauritania, Episentrum Pendidikan Islam di Sisi Barat Afrika
Muhajirin
Senin, 24 Januari 2022 - 11:03 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Mauritania merupakan salah satu negara miskin Afrika. Ia berdekatan dengan Maroko, Sahara Barat, Mali, dan Senegal. Meski berada di Afrika, penduduk aslinya tidak berkulit hitam. Kulit mereka serupa dengan orang-orang Maroko dengan hidung yang khas.
Penduduk Mauritania, khususnya daerah Chinguetti, terkenal memiliki hafalan yang kuat. Mereka memiliki cara menghafal yang unik, termasuk dalam menghafalkan Al-Qur'an. Mereka tidak menggunakan mushaf Al-Qur'an sebagaimana yang digunakan mayoritas umat Islam dunia.
Mengutip laman mahadannur, Al-Qur'an penduduk Mauritania berbentuk kayu sepanjang 40-55 cm dan lebar 20-25 cm.
Orang-orang Mauritania merupakan suku yang sangat disegani para ulama Saudi. Ini karena kebiasaan mereka dalam menuntut ilmu yang luar biasa. Sudah menjadi budaya do sana, jika ada anak tidak menghafal Al-Qur'an pada usia 7 tahun, akan memalukan bagi kedua orang tuanya.
Mereka mendapat pendidikan Al-Qur'an bukan hanya sejak kecil, tapi mulai sejak bayi. Jika seorang ibu hamil, ia tak akan menghabiskan waktu untuk tidur. Sang ibu akan menyibukkan diri dengan mengulang dan membaca Al-Qur'an.
Saat lahir, anggota keluarga yang lain akan menggantikan si ibu membaca Al-Qur'an. Misal anak sulung mengulang hafalan kepada ayah atau ke ibu di dekat sang adik yang masih bayi. Ketika bayi digendong, sang kakak akan membacakan Al-Qur'an di depan ibunya.
Ketika anak beranjak 7 tahun ke atas, mereka pergi ke tempat para masyaikh belajar ilmu agama. Namun, bukan di dalam kelas. Sebab, para masyaikh membuat tenda di tengah gurun. Di sana mereka melakukan proses belajar-mengajar.
Penduduk Mauritania, khususnya daerah Chinguetti, terkenal memiliki hafalan yang kuat. Mereka memiliki cara menghafal yang unik, termasuk dalam menghafalkan Al-Qur'an. Mereka tidak menggunakan mushaf Al-Qur'an sebagaimana yang digunakan mayoritas umat Islam dunia.
Mengutip laman mahadannur, Al-Qur'an penduduk Mauritania berbentuk kayu sepanjang 40-55 cm dan lebar 20-25 cm.
Orang-orang Mauritania merupakan suku yang sangat disegani para ulama Saudi. Ini karena kebiasaan mereka dalam menuntut ilmu yang luar biasa. Sudah menjadi budaya do sana, jika ada anak tidak menghafal Al-Qur'an pada usia 7 tahun, akan memalukan bagi kedua orang tuanya.
Mereka mendapat pendidikan Al-Qur'an bukan hanya sejak kecil, tapi mulai sejak bayi. Jika seorang ibu hamil, ia tak akan menghabiskan waktu untuk tidur. Sang ibu akan menyibukkan diri dengan mengulang dan membaca Al-Qur'an.
Saat lahir, anggota keluarga yang lain akan menggantikan si ibu membaca Al-Qur'an. Misal anak sulung mengulang hafalan kepada ayah atau ke ibu di dekat sang adik yang masih bayi. Ketika bayi digendong, sang kakak akan membacakan Al-Qur'an di depan ibunya.
Ketika anak beranjak 7 tahun ke atas, mereka pergi ke tempat para masyaikh belajar ilmu agama. Namun, bukan di dalam kelas. Sebab, para masyaikh membuat tenda di tengah gurun. Di sana mereka melakukan proses belajar-mengajar.