LANGIT7.ID, Jakarta - Mauritania merupakan salah satu negara miskin Afrika. Ia berdekatan dengan Maroko, Sahara Barat, Mali, dan Senegal. Meski berada di Afrika, penduduk aslinya tidak berkulit hitam. Kulit mereka serupa dengan orang-orang Maroko dengan hidung yang khas.
Penduduk Mauritania, khususnya daerah Chinguetti, terkenal memiliki hafalan yang kuat. Mereka memiliki cara menghafal yang unik, termasuk dalam menghafalkan Al-Qur'an. Mereka tidak menggunakan mushaf Al-Qur'an sebagaimana yang digunakan mayoritas umat Islam dunia.
Mengutip laman
mahadannur, Al-Qur'an penduduk Mauritania berbentuk kayu sepanjang 40-55 cm dan lebar 20-25 cm.
Orang-orang Mauritania merupakan suku yang sangat disegani para ulama Saudi. Ini karena kebiasaan mereka dalam menuntut ilmu yang luar biasa. Sudah menjadi budaya do sana, jika ada anak tidak menghafal Al-Qur'an pada usia 7 tahun, akan memalukan bagi kedua orang tuanya.
Mereka mendapat pendidikan Al-Qur'an bukan hanya sejak kecil, tapi mulai sejak bayi. Jika seorang ibu hamil, ia tak akan menghabiskan waktu untuk tidur. Sang ibu akan menyibukkan diri dengan mengulang dan membaca Al-Qur'an.
Saat lahir, anggota keluarga yang lain akan menggantikan si ibu membaca Al-Qur'an. Misal anak sulung mengulang hafalan kepada ayah atau ke ibu di dekat sang adik yang masih bayi. Ketika bayi digendong, sang kakak akan membacakan Al-Qur'an di depan ibunya.
Ketika anak beranjak 7 tahun ke atas, mereka pergi ke tempat para masyaikh belajar ilmu agama. Namun, bukan di dalam kelas. Sebab, para masyaikh membuat tenda di tengah gurun. Di sana mereka melakukan proses belajar-mengajar.
Hal unik lainnya, ketika sang guru meminta semua murid memperhatikan, maka tidak ada satu pun siswa berani menulis, membaca, apalagi bercanda. Semua akan fokus mendengarkan penjelasan syaikh.
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, baru mereka menulis. Tapi unik, mereka bukan menulis di atas kertas, tapi di batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya. Mereka memang dilarang menggunakan kertas.
Setelah menulis semua penjelasan syaikh, tulisan itu diperlihatkan untuk dikoreksi. Jika ada kesalahan, sang syaikh akan membenarkan. Itu menunjukkan, syaikh juga menghafal apa yang telah diucapkan.
Ketika sudah ditulis dengan benar, syaikh meminta mereka menghapus catatan tersebut. Itu menunjukkan, semua catatan itu telah dihafal. Setelah itu, barulah syaikh melanjutkan pelajaran dengan metode serupa.
Perpustakaan ChinguettiMengutip
Amusing Planet, Chinguetti terletak di tengah Gurun Sahara, Mauritania. Perpustakaan merupakan tempat berbagai teks atau manuskrip kuno yang menjadi saksi peradaban Islam.
Perpustakaan itu menyimpan sekitar 1.300 naskah Al-Qur'an tua, serta teks-teks peradaban Islam dan Timur Tengah yang berusia ratusan tahun. Menariknya, kondisi perpustakaan itu beserta isinya tak pernah berubah dan bangunan lama masih bertahan hingga kini.
Manuskrip-manuskrip itu diperkirakan berasal dari masa kejayaan Chinguetti pada abad ke-11. Chinguetti merupakan salah satu rute yang dilalui pedagang Arab dan Afrika di Gurun Sahara. Banyak pengendara unta yang melintas dan berhenti untuk beristirahat.
Selain itu, Chinguetti juga menjadi titik kumpul bagi para jamaah haji dalam perjalanan menuju Mekkah. Dengan banyaknya orang datang ke kota ini, pertukaran gagasan mengenai ilmu pengetahuan dan agama pun terjadi.
Chinguetti yang tadinya dikenal sebagai tempat persinggahan pun berubah menjadi tempat untuk belajar berbagai bidang ilmu seperti agama, hukum, dan sains.
Manuskrip-manuskrip yang ada di Chinguetti disimpan di beberapa perpustakaan. Namun sayang, jumlah perpustakaan yang masih ada kini semakin menyusut. Bahkan, dar 30 perpustakaan kini hanya tersisa lima perpustakaan saja.
(jqf)