Omicron Merebak, PTM Jalan Terus
Muhajirin
Selasa, 25 Januari 2022 - 19:13 WIB
Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan (foto: istimewa)
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, memberi keterangan terkait perkembangan terkini kasus Omicron. Meski kasus varian Omicron terus bertambah, pemerintah tetap memutuskan pembelajaran tatap muka 100 persen jalan terus.
"Kalau ada hal-hal yang luar biasa akan diambil keputusan tersendiri. Jadi kita tidak ada rencana untuk menghentikan tatap muka, sekolah tatap muka," ujar dia dalam konferensi pers evaluasi PPKM, Senin (24/1/2022), dilansir infopublik.
Kepastian ini sekaligus menjawab imbauan yang dikeluarkan lima organisasi medis. Kelima organisasi medis itu meliputi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular (Perki), serta Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Indonesia (Perdatin).
Kelima organisasi ini meminta agar pemerintah mengevaluasi pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen pada kelompok usia kurang dari 11 tahun. Sebab, menurut mereka, anak-anak belum dapat patuh sepenuhnya terhadap protokol kesehatan. Alasan lainnya karena vaksinasi lengkap bagi anak berusia 11 tahun ke bawah belum tersedia.
”Anak berpotensi mengalami komplikasi berat, yaitu multisystem inflammatory syndrome in children associated with COVID-19 (sindrom peradangan multisistem pada anak) atau MIS-C," Ketua Umum Perki Isman Firdaus melalui keterangan tertulis, Minggu (23/01/2022).
Selain itu, anak juga berpotensi mengalami komplikasi long COVID-19 lainnya, sebagaimana orang dewasa. Akibatnya, kinerja organ tubuh juga akan terganggu.
Kasus varian Omicron di Indonesia tercatat telah membawa korban. Dua orang yang terpapar varian ini meninggal beberapa waktu lalu.
"Kalau ada hal-hal yang luar biasa akan diambil keputusan tersendiri. Jadi kita tidak ada rencana untuk menghentikan tatap muka, sekolah tatap muka," ujar dia dalam konferensi pers evaluasi PPKM, Senin (24/1/2022), dilansir infopublik.
Kepastian ini sekaligus menjawab imbauan yang dikeluarkan lima organisasi medis. Kelima organisasi medis itu meliputi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular (Perki), serta Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Indonesia (Perdatin).
Kelima organisasi ini meminta agar pemerintah mengevaluasi pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen pada kelompok usia kurang dari 11 tahun. Sebab, menurut mereka, anak-anak belum dapat patuh sepenuhnya terhadap protokol kesehatan. Alasan lainnya karena vaksinasi lengkap bagi anak berusia 11 tahun ke bawah belum tersedia.
”Anak berpotensi mengalami komplikasi berat, yaitu multisystem inflammatory syndrome in children associated with COVID-19 (sindrom peradangan multisistem pada anak) atau MIS-C," Ketua Umum Perki Isman Firdaus melalui keterangan tertulis, Minggu (23/01/2022).
Selain itu, anak juga berpotensi mengalami komplikasi long COVID-19 lainnya, sebagaimana orang dewasa. Akibatnya, kinerja organ tubuh juga akan terganggu.
Kasus varian Omicron di Indonesia tercatat telah membawa korban. Dua orang yang terpapar varian ini meninggal beberapa waktu lalu.