Syekh Yusri Rusydi: Ulama, Sufi, Dokter dan Guru Besar Ahli Bedah dari Mesir
Muhajirin
Sabtu, 24 Juli 2021 - 13:00 WIB
Syekh Yusri Rusydi sekilas tidak nampak seperti para sufi kebanyakan, penampilannya yang profesional sebagai dokter membuat banyak orang tak menyangka bahwa ia adalah seorang sufi (foto: asianmuslim)
Maulana Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Rusydi Sayyid Jabr Al-Hasani hafizhahullah mematahkan pandangan umum terkait ajaran tasawuf. Bagi Sebagian kalangan, ajaran tasawauf identic dengan konservatisme dan sikap antipati terhadap dunia. Tasawuf sering diidentikkan dengan pakaian lusuh, jubah kucel, jidat hitam, tasbih mengular, bertapa di pegunungan, dan menghindar dari hiruk pikuk kehidupan sambil terus menerus mengingat Tuhan.
Anggapan seperti seringkali membuat orang sampai pada kesimpulan bahwa tasawuf menjadi salah satu alasan di balik kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Para sufi diasosiasikan cenderung membuat orang menghindar dari hiruk-pikuk duniawi. Kala tak peduli dengan dunia lagi, saat itulah semangat memajukan peradaban Islam pun lumpuh.
Namun asumsi itu akan runtuh jika mengenal sosok Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah. Selain dikenal sebagai seorang ulama, Mursyid Tarekat Syadziliyyah di Mesir ini juga dikenal sebagai seorang dokter yang setiap hari melayani orang-orang sakit, bukan hanya duduk bertapa dalam masjid. Bahkan beliau bukan hanya dokter biasa namun seorang Guru Besar Ahli Bedah. Rumahnya terbilang mewah, harta melimpah, tapi dalam saat yang sama, beliau juga sufi yang tekun dalam beribadah.
Syekh Yusri Rusydi Jabr al-Hasani memiliki nasab yang sangat mulia. Jika dirunut, nasab beliau akan sampai pada Hasan bin Ali, cucu Rasulullah SAW. Beliau berakidah Sunni mazhab Asy`ari dan dalam fikih bermazhab Syafi`i.
Beliau putra Mesir. Lahir di negeri piramida itu pada 23 September 1954. Ia menghabiskan masa kecilnya di Mesir. Mulai dari pendidikan dasar hingga berstatus mahasiswa di universitas bergengsi di negeri itu.
Beliau tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo dan menjadi sarjana pada 1978 dengan peringkat sangat baik. Kemudian mendapatkan gelar Magister dalam bidang Bedah Umum dan Bedah Vaskular dari universitas yang sama pada 1983. Pada 1991 beliau mendapatkan gelar Doktor dan pada 1992 menjadi anggota Persatuan Dokter Bedah Internasional.
Beliau seorang ulama yang haus ilmu. Pada 1992 ia kembali menjadi mahasiswa di Universitas al-Azhar fakultas Syariah wa al-Qanun dan mendapatkan gelar Licence (strata satu) di jurusan Syariah pada tahun 1997 dengan peringkat baik sekali.
Anggapan seperti seringkali membuat orang sampai pada kesimpulan bahwa tasawuf menjadi salah satu alasan di balik kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Para sufi diasosiasikan cenderung membuat orang menghindar dari hiruk-pikuk duniawi. Kala tak peduli dengan dunia lagi, saat itulah semangat memajukan peradaban Islam pun lumpuh.
Namun asumsi itu akan runtuh jika mengenal sosok Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah. Selain dikenal sebagai seorang ulama, Mursyid Tarekat Syadziliyyah di Mesir ini juga dikenal sebagai seorang dokter yang setiap hari melayani orang-orang sakit, bukan hanya duduk bertapa dalam masjid. Bahkan beliau bukan hanya dokter biasa namun seorang Guru Besar Ahli Bedah. Rumahnya terbilang mewah, harta melimpah, tapi dalam saat yang sama, beliau juga sufi yang tekun dalam beribadah.
Syekh Yusri Rusydi Jabr al-Hasani memiliki nasab yang sangat mulia. Jika dirunut, nasab beliau akan sampai pada Hasan bin Ali, cucu Rasulullah SAW. Beliau berakidah Sunni mazhab Asy`ari dan dalam fikih bermazhab Syafi`i.
Beliau putra Mesir. Lahir di negeri piramida itu pada 23 September 1954. Ia menghabiskan masa kecilnya di Mesir. Mulai dari pendidikan dasar hingga berstatus mahasiswa di universitas bergengsi di negeri itu.
Beliau tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo dan menjadi sarjana pada 1978 dengan peringkat sangat baik. Kemudian mendapatkan gelar Magister dalam bidang Bedah Umum dan Bedah Vaskular dari universitas yang sama pada 1983. Pada 1991 beliau mendapatkan gelar Doktor dan pada 1992 menjadi anggota Persatuan Dokter Bedah Internasional.
Beliau seorang ulama yang haus ilmu. Pada 1992 ia kembali menjadi mahasiswa di Universitas al-Azhar fakultas Syariah wa al-Qanun dan mendapatkan gelar Licence (strata satu) di jurusan Syariah pada tahun 1997 dengan peringkat baik sekali.