LANGIT7.ID- Di balik gemerlap gaya hidup urban dan narasi kebebasan ekspresi yang diagungkan manusia modern, tersimpan sebuah fenomena yang dalam literatur eskatologi dipandang sebagai pembusukan akar masyarakat. Pergeseran nilai yang mengubah perilaku seksual dari wilayah sakral menjadi sekadar komoditas atau gaya hidup bukan sekadar masalah pergeseran sosiologis.
Dalam perspektif Islam, merebaknya perzinaan adalah salah satu alarm paling nyaring tentang kian dekatnya titik akhir sejarah manusia.
Dalam buku
Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra, ‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah membedah fenomena ini bukan sebagai kejadian sporadis, melainkan sebagai tanda kecil kiamat yang bersifat masif. Laporan yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Rabwah dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad ini merujuk pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu anhu:
إنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : …. وَيَظْهَرَ الزِّنَاArtinya:
Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah... dan beliau menyebutkan di antaranya: merebaknya perzinaan.Kata yazhhara dalam teks Arab tersebut bukan sekadar berarti ada, melainkan bermakna muncul ke permukaan, tampak jelas, atau menjadi sesuatu yang terang-terangan dilakukan tanpa rasa malu lagi. Secara sosiologis, ini menunjukkan sebuah masa di mana kontrol sosial telah lumpuh dan rasa malu telah tercabut dari akar budaya masyarakat.
Banalitas Hubungan BebasAnalisis ‘Awadh bin ‘Ali ini membawa kita pada refleksi tentang bagaimana perzinaan berpindah dari ruang gelap ke panggung terang. Hari ini, teknologi digital dan perubahan paradigma moralitas telah memfasilitasi terjadinya apa yang disebut sebagai normalisasi perilaku menyimpang. Apa yang dahulu dianggap sebagai aib besar, kini sering kali dibungkus dengan istilah-istilah yang lebih halus seperti konsensual atau ekspresi cinta.
Secara analitis, fenomena ini mencerminkan matinya institusi keluarga sebagai benteng pertahanan moral terkecil. Ketika zina merebak, dampaknya tidak hanya berhenti pada dosa personal, tetapi menjalar pada kekacauan silsilah, degradasi kesehatan publik, hingga hancurnya struktur masyarakat yang berbasis pada tanggung jawab hukum dan agama.
Literatur eskatologi menjelaskan bahwa fenomena ini akan mencapai puncaknya ketika manusia tidak lagi merasa terganggu dengan kemaksiatan yang terjadi di depan mata mereka. Hal ini sejalan dengan kondisi psikologi sosial di mana empati terhadap nilai-nilai ketuhanan digantikan oleh hedonisme buta.
Pudarnya Malu Sebagai Fondasi ImanPesan sentral dari naskah IslamHouse tahun 2009 ini menekankan bahwa kiamat kecil dalam rupa perzinaan yang merajalela adalah bentuk pengikisan iman yang paling nyata. Malu, yang dalam tradisi Islam disebut sebagai bagian dari iman, merupakan rem yang menjaga manusia dari perilaku hewani. Ketika rem ini blong, maka manusia akan terjebak dalam arus syahwat yang tidak terkendali.
Merebaknya zina dalam nubuatan ini juga sering dikaitkan dengan fenomena sosial lainnya, seperti kemudahan akses terhadap rangsangan visual dan melemahnya pengawasan otoritas moral. Kiamat sedang mengetuk pintu melalui rusaknya tatanan biologis dan sosial manusia yang paling mendasar.
Kajian ini mengajak kita untuk melihat melampaui statistik kasus asusila. Ini adalah masalah eksistensial tentang bagaimana manusia mempertahankan kemuliaannya di hadapan pencipta-Nya. Jika hubungan luar nikah dianggap sebagai tren dan kesucian dianggap sebagai hal yang kuno, maka narasi eskatologis ini menemukan pembenarannya dalam realitas sosial kita hari ini. Peradaban yang membiarkan perzinaan merebak sebenarnya sedang menggali lubang kehancurannya sendiri, setapak demi setapak menuju gerbang akhir zaman.
Amanat untuk menjaga kesucian diri dan keturunan kini berada di persimpangan jalan. Hilangnya rasa takut kepada Tuhan dan dominasi materi atas nurani telah menjadikan nubuat tentang merebaknya zina sebagai cermin bagi kondisi zaman yang sedang sakit.
(mif)