LANGIT7.ID-Dalam catatan sejarah kekuasaan, kekerasan sering kali menjadi instrumen terakhir bagi rezim yang kehilangan legitimasi moral. Namun, dalam diskursus eskatologi Islam, fenomena munculnya pasukan pendukung kezhaliman bukan sekadar dinamika politik praktis, melainkan sebuah pertanda kosmik yang telah dinubuatkan berabad-abad silam. Fenomena ini menggambarkan sebuah masa di mana tangan-tangan kekuasaan tidak lagi berfungsi melindungi, melainkan menindas dengan dingin.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam
Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra membedah realitas ini sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang sangat relevan dengan potret aparat penegak ketidakadilan di berbagai belahan dunia. Dalam karya yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara dan diterbitkan melalui IslamHouse pada 2009 ini, ditekankan bahwa salah satu ciri akhir zaman adalah normalisasi kekerasan oleh kelompok-kelompok tertentu yang menjadi kaki tangan penguasa zhalim.
Dasar dari analisis ini berhulu pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَArtinya:
Dua kelompok manusia penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu golongan orang-orang yang membawa cemeti seperti buntut sapi, mereka memukuli manusia dengannya.
Penggambaran cemeti seperti buntut sapi dalam teks tersebut secara interpretatif dapat dimaknai sebagai alat-alat pemukul, senjata, atau instrumen kekerasan modern yang digunakan untuk meredam rakyat dan memaksakan kehendak zhalim.
Rutinitas dalam LaknatYang lebih mengerikan dari sekadar aksi kekerasan fisik adalah transformasi mental para pelakunya. Kezhaliman ini bukan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan menjadi rutinitas birokratis yang dianggap biasa. Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan khusus kepada Abu Hurairah yang juga terekam dalam Shahih Muslim:
إِنْ طَالَتْ بِكَ مُدَّةٌ أَوْشَكْتَ أَنْ تَرَى قَوْمًا يَغْدُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ ، وَيَرُوحُونَ فِي لَعْنَتِهِ ، فِي أَيْدِيهِمْ مِثْلُ أَذْنَابِ الْبَقَرِArtinya:
Seandainya umurmu panjang, sekiranya engkau akan melihat satu kaum yang pergi di pagi hari dalam kemurkaan Allah, dan pulang di sore harinya dalam laknat-Nya, di tangan-tangan mereka ada cemeti bagaikan ekor sapi.
Secara analitis, frasa pergi dalam kemurkaan dan pulang dalam laknat menggambarkan sebuah siklus hidup yang telah kehilangan keberkahan sepenuhnya. Mereka adalah orang-orang yang mengabdi pada sistem yang merusak demi imbalan duniawi, tanpa memperdulikan apakah instruksi yang mereka jalankan melanggar hak asasi manusia atau hukum Tuhan.
Interpretasi ‘Awadh bin ‘Ali menekankan bahwa kemunculan pasukan ini menandakan bahwa integritas kepemimpinan telah runtuh. Ketika pemimpin tidak lagi memiliki kapabilitas intelektual dan moral, mereka akan cenderung menggunakan kekuatan koersif untuk mempertahankan posisi. Di sini, para pemegang cemeti menjadi benteng terakhir yang menjaga struktur kezhaliman tersebut.
Matinya Empati dan NuraniFenomena ini mencerminkan apa yang dalam sosiologi disebut sebagai
banality of evil atau banalisasi kejahatan. Para pendukung kezhaliman ini merasa bahwa mereka hanya menjalankan perintah atau menegakkan ketertiban, padahal yang mereka lakukan adalah memukuli manusia dan merampas rasa aman.
Kiamat kecil, dalam konteks ini, hadir lewat hilangnya rasa belas kasih dalam hati para penjaga kekuasaan. Mereka menjadi instrumen mati yang tidak lagi memiliki sensor nurani. Keberadaan mereka yang masif di ruang publik, menurut literatur eskatologi, adalah indikator bahwa bumi sedang bersiap menuju pergantian fase sejarah yang lebih besar.
‘Awadh bin ‘Ali mengajak pembaca untuk waspada terhadap tanda-tanda ini. Apakah kita melihat hari ini adanya aparat atau kelompok yang dengan ringan tangan menyakiti sesama demi kepentingan segelintir elite? Jika instrumen kekerasan lebih menonjol daripada instrumen keadilan, maka nubuatan tentang kaum yang berangkat dalam kemurkaan Allah itu sedang menemukan panggungnya.
Amanat untuk menjaga manusia telah ditukar dengan loyalitas buta pada penindas. Inilah titik di mana keteraturan sosial berubah menjadi anarki yang terorganisir, sebuah pengantar menuju kehancuran yang lebih dahsyat di masa depan.
(mif)