Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 21 Juni 2026
home masjid detail berita

Kejujuran dalam Mengelola Urusan Publik Pilar Utama Kepemimpinan Islam

miftah yusufpati Ahad, 21 Juni 2026 - 03:30 WIB
Kejujuran dalam Mengelola Urusan Publik Pilar Utama Kepemimpinan Islam
Penguasa wajib memastikan transparansi demi menegakkan keadilan sosial. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Seorang auditor senior duduk termangu di hadapan layar komputer jinjingnya di sebuah kantor kementerian, pertengahan beberapa waktu lalu. Ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan silang antara laporan capaian program pengentasan kemiskinan di sebuah provinsi dengan kondisi riil di lapangan.

Di atas kertas, proyek tersebut diklaim rampung 100 persen, namun fakta di lapangan menunjukkan fasilitas layanan publik yang dijanjikan masih berupa fondasi kosong yang mangkrak. Ketidakjujuran aparatur dalam melaporkan hasil kerja secara sistemis terus menjadi benalu yang menggerogoti efektivitas pembangunan nasional.

Praktik manipulasi data dan laporan asal bapak senang di lingkungan birokrasi masih menjadi tantangan struktural yang mahaberat. Berdasarkan lembar data berkala dari lembaga pengawas keuangan negara, kerugian negara yang dipicu oleh ketidakjujuran administrasi dan laporan fiktif para pejabat daerah mencapai angka yang sangat fantastis.

Kondisi ini menegaskan bahwa tanpa adanya komitmen kejujuran yang radikal dari pemegang wewenang, kebijakan publik hanya akan menjadi alat pemuas syahwat politik segelintir kelompok.

Islam menempatkan kejujuran dalam mengelola urusan masyarakat sebagai pilar mutlak yang tidak dapat ditawar. Seorang pemimpin dituntut untuk menggerakkan seluruh instrumen kekuasaannya demi kemaslahatan publik secara nyata.

Hal ini diwujudkan dengan komitmen penuh untuk menegakkan hukum, memberantas segala bentuk penyimpangan dan pelaku kerusakan, serta mengibarkan panji penegakan kebaikan dan pencegahan kemungkaran di tengah masyarakat. Penguasa wajib mengerahkan segala daya untuk menjaga kehormatan, agama, dan hak milik warganya.

Kewajiban menjaga integritas dan ketertiban sosial ini bersumber langsung dari perintah Allah dalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah ayat 119)

Perintah untuk bersikap benar dan jujur ini menjadi fondasi operasional bagi seorang penguasa dalam memimpin jalannya roda pemerintahan. Pemimpin tidak boleh bersikap pasif atau sekadar menerima laporan formalitas dari para bawahannya.

Ia harus turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi kinerja para pejabat dan pegawainya secara kontinu, guna memperhatikan secara saksama bagaimana mereka menjalankan tugas dan bagaimana sikap mereka dalam melayani rakyat sehari-hari.

Sistem Pengawasan

Dalam melaksanakan manajemen publik, penguasa dituntut untuk selalu memilih jalan terbaik dalam menyelesaikan setiap problematika yang dihadapi masyarakat. Sebaliknya, para pejabat bawahan juga diharuskan oleh sistem hukum untuk memberikan laporan kinerja secara jujur, akurat, dan rinci mengenai tugas-tugas yang telah diamanatkan kepada mereka. Ketidakjujuran dalam birokrasi adalah racun yang akan merusak seluruh tatanan sosial.

Ibnu Taimiyah dalam kitab monumentalnya, Al-Siyasah al-Syar'iyyah fi Ishlah al-Ra'i wa al-Ra'iyyah, menegaskan bahwa jabatan publik adalah sebuah amanah, bukan ladang mencari keuntungan pribadi.

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa seorang pemimpin yang menunjuk pejabat bawahan berdasarkan hubungan kekerabatan atau suap, dan bukan karena faktor kompetensi serta kejujuran, sesungguhnya telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan seluruh kaum muslimin. Sistem pengawasan internal yang ketat adalah instrumen wajib yang harus dibangun oleh penguasa untuk mencegah terjadinya kezaliman struktural.

Hal senada dipaparkan Syaikh Yusuf al-Qardawi, dalam karya ilmiahnya mengenai fikh kenegaraan. Al-Qaradawi menyebutkan bahwa akuntabilitas dalam pemerintahan Islam bersifat ganda, yakni akuntabilitas horizontal di hadapan hukum manusia dan akuntabilitas vertikal di hadapan Tuhan. Penguasa tidak boleh membiarkan para pegawainya bertindak sewenang-wenang terhadap hak-hak sipil masyarakat tanpa ada sanksi hukum yang tegas dan transparan.

Pertanggungjawaban Mutlak

Pengawasan yang kontinu ini krusial karena setiap kebijakan yang diambil oleh penguasa akan berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak. Ketika seorang pemimpin membiarkan bawahannya memanipulasi laporan, ia secara tidak langsung ikut andil dalam menyengsarakan rakyat yang seharusnya ia lindungi. Sikap masa bodoh terhadap kinerja birokrasi adalah bentuk kelalaian moral yang sangat fatal.

Setiap tetes keringat masyarakat yang terzalimi akibat buruknya kinerja pemerintah akan dituntut di pengadilan akhirat. Rasa aman, kesejahteraan, dan keadilan sosial hanya dapat terwujud jika kanal informasi antara penguasa, pelaksana kebijakan, dan rakyat berjalan di atas rel kejujuran yang objektif.

Kesimpulannya, rambu bagi seorang pemimpin dalam menjalankan urusan publik telah digariskan secara terang benderang oleh syariat Islam. Kekuasaan adalah ruang tanggung jawab yang menuntut transparansi total dan pengawasan birokrasi yang tanpa kompromi. Ketika seorang pejabat memilih untuk memaklumi laporan palsu dan mengabaikan penyimpangan di bawah kepemimpinannya demi menjaga stabilitas politik semu, ia sesungguhnya sedang menumpuk beban dosa yang sangat berat, yang pada saatnya nanti wajib ia pertanggungjawabkan secara mandiri di hadapan mahkamah ilahi kelak.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 21 Juni 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:58
Ashar
15:19
Maghrib
17:51
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan