LANGIT7.ID- Dalam sosiologi modern, integritas dan kompetensi dianggap sebagai bahan bakar utama keberlangsungan sebuah institusi. Namun, dalam perspektif eskatologi Islam, rapuhnya pilar-pilar kepercayaan tersebut bukan sekadar isu tata kelola birokrasi, melainkan sebuah sinyal peringatan tentang dekatnya akhir sejarah.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyoroti fenomena hilangnya amanat sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang paling presisi dengan realitas sosial manusia hari ini.
Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini berpijak pada sebuah dialog krusial antara seorang penanya dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang terekam dalam Shahih Al-Bukhari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sang Nabi memberikan peringatan yang sangat tegas:
إِذَا ضُيِّعَتْ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَArtinya,
jika amanat telah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.Ketajaman nubuat ini terletak pada definisi operasional yang diberikan Nabi ketika ditanya mengenai bagaimana amanat itu disia-siakan. Beliau menjawab dengan sebuah tesis kepemimpinan:
إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَJika urusan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah kiamat.Jawaban ini menggeser pemahaman amanat dari sekadar moralitas individu menjadi masalah struktural yang menyentuh ranah kepemimpinan, otoritas, dan profesionalisme.
Interpretasi ‘Awadh bin ‘Ali menekankan bahwa kiamat tidak melulu dimulai dari fenomena kosmik yang spektakuler, melainkan berawal dari pembusukan internal dalam tatanan masyarakat.
Ketika standar kompetensi diabaikan dan jabatan-jabatan strategis diserahkan berdasarkan nepotisme, kedekatan personal, atau ambisi kekuasaan tanpa kapasitas intelektual maupun moral, itulah saat di mana keteraturan dunia sedang menuju titik keruntuhan.
Amanat, dalam konteks ini, adalah menjaga agar setiap sendi kehidupan dikelola oleh mereka yang memiliki kelayakan dan kapabilitas.
Secara analitis, fenomena ini mencerminkan matinya meritokrasi. Ketika orang yang bukan ahlinya memegang kendali atas urusan publik, maka terjadilah kekacauan kebijakan, ketidakadilan hukum, dan inefisiensi sistemik.
Kiamat kecil hadir dalam bentuk disfungsi sosial yang masif. ‘Awadh bin ‘Ali mengingatkan bahwa hilangnya amanat adalah indikator kuat bahwa rasa takut kepada Tuhan telah digantikan oleh pragmatisme buta dan kecintaan berlebihan pada materi.
Lebih jauh, literatur eskatologi menjelaskan bahwa hilangnya amanat dimulai dari pengikisan di dalam hati manusia. Amanat digambarkan akan dicabut sedikit demi sedikit hingga hanya tersisa bekas tipis, sampai tiba masa di mana orang-orang bertransaksi satu sama lain namun hampir tidak ada yang benar-benar mampu memegang janji.
Fenomena akhir zaman ditandai dengan kekaguman massa pada figur-figur yang terlihat cerdas dan santun secara lahiriah, padahal batin mereka kosong dari esensi iman.
Kajian ini mengajak kita melakukan otopsi terhadap kondisi zaman. Apakah kita sedang berada di masa di mana urusan besar diserahkan pada mereka yang hanya pandai bersolek citra namun miskin kapasitas?
Jika demikian, maka narasi eskatologis ini menjadi sangat relevan. Kiamat sedang mendekat melalui pintu-pintu kantor yang dipimpin oleh orang-orang yang salah, melalui kebijakan yang lahir dari ketidaktahuan, dan melalui hilangnya kejujuran dalam ruang-ruang publik.
(mif)