LANGIT7.ID- Dalam narasi eskatologi Islam, wilayah timur Jazirah Arab sering kali digambarkan sebagai palagan bagi munculnya peristiwa-peristiwa besar yang mengubah garis waktu sejarah. Salah satu penanda mendekatnya hari akhir yang jarang dikaji secara mendalam adalah gesekan militer antara kaum muslimin dengan bangsa-bangsa dari kalangan Ajam, yakni bangsa non-Arab.
Awadh bin Ali bin Abdullah dalam
Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyoroti peperangan dengan bangsa Khuz dan Karman sebagai variabel krusial dalam jam pasir kiamat.
Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini merujuk pada teks yang terekam dalam Shahih Al-Bukhari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan koordinat etnis dan geografis yang sangat spesifik:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنَ الأَعَاجِمِKiamat tidak akan terjadi sampai kalian memerangi bangsa Khuz dan bangsa Karman dari kalangan Ajam. Secara fisik, mereka dideskripsikan memiliki rupa yang identik dengan rumpun bangsa Asia Tengah: bermuka merah, berhidung pesek (futshul unuf), bermata sipit, dengan wajah lebar yang dianalogikan bagaikan tameng yang dilapisi kulit.
Satu ciri khas yang ditekankan adalah penggunaan sandal yang terbuat dari bulu, sebuah adaptasi terhadap lingkungan pegunungan atau stepa yang dingin.
Interpretasi Awadh bin Ali membawa kita pada pemetaan wilayah Khuzestan dan Kirman, daerah yang secara historis terletak di wilayah Persia (sekarang bagian dari Iran) dan sekitarnya. Khuz merujuk pada penduduk di daerah Khuzestan, sementara Karman merujuk pada penduduk Kirman di bagian timur.
Dalam perspektif sejarah, peperangan ini telah terjadi sejak masa awal ekspansi Islam ke timur, namun para pakar eskatologi melihat bahwa eskalasi konflik dengan karakter fisik serupa terus berulang dalam gelombang invasi bangsa-bangsa dari timur jauh, termasuk bangsa Mongol dan Tatar.
Secara ilmiah, penyebutan Khuz dan Karman menunjukkan akurasi geografi politik dalam nubuat kenabian. Pada abad ke-7, wilayah-wilayah ini merupakan batas luar pengaruh Arab.
Fenomena ini mencerminkan sebuah pergeseran pusat gravitasi konflik. Dunia Islam tidak hanya berhadapan dengan imperium besar seperti Romawi, tetapi juga dengan kekuatan-kekuatan lokal di pedalaman Asia yang memiliki ketangguhan fisik dan kultur yang sangat berbeda.
Analogis wajah bagaikan tameng yang dilapisi kulit (al-majann al-muthraqah) memberikan gambaran tentang keteguhan dan kekerasan karakter bangsa tersebut.
Awadh bin Ali melalui publikasi IslamHouse mengingatkan bahwa tanda-tanda ini bersifat kumulatif. Terjadinya peperangan ini membuktikan bahwa risalah Islam telah mencapai wilayah-wilayah terjauh dan berbenturan dengan peradaban Ajam yang paling tangguh sekalipun.
Kajian ini mengajak kita merenung bahwa kiamat kecil sering kali berupa rangkaian peristiwa sejarah yang konkret. Perang di wilayah Khuz dan Karman bukan sekadar catatan militer masa lalu, melainkan sebuah peringatan bahwa setiap jengkal tanah yang dijanjikan dalam nubuat akan benar-benar menjadi saksi sejarah. Ketika deskripsi fisik yang disampaikan Nabi ribuan tahun lalu berkelindan dengan fakta sejarah di wilayah Persia dan sekitarnya, maka itulah isyarat nyata bahwa jam kosmik dunia sedang bergerak menuju titik akhirnya.
(mif)