LANGIT7.ID- Dalam narasi populer tentang akhir dunia, kita sering kali disuguhi gambaran kekacauan, perang, dan anarki. Namun, eskatologi Islam menawarkan sudut pandang yang kontraintuitif. Salah satu penanda mendekatnya kiamat justru adalah tersebarnya stabilitas keamanan yang luar biasa di wilayah-wilayah yang secara historis rawan konflik.
Awadh bin Ali bin Abdullah dalam
Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra membedah fenomena kemapanan keamanan ini sebagai bagian dari kepingan puzzle menuju hari akhir.
Laporan yang dirilis oleh Maktab Dakwah Rabwah ini mengutip sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang dicatat oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan sebuah gambaran perjalanan yang sangat damai:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ بَيْنَ الْعِرَاقِ وَمَكَّةَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ ضَلاَلَ الطَّرِيقِArtinya,
tidak akan terjadi kiamat hingga seseorang pengendara berjalan di antara Irak dan Mekkah tidak merasa takut kecuali takut tersesat di jalan. Kalimat ini mencerminkan sebuah kondisi di mana ancaman kriminalitas, perampokan jalanan, atau gangguan keamanan dari kelompok bersenjata telah sirna sepenuhnya. Satu-satunya kecemasan yang tersisa bagi seorang musafir hanyalah teknis navigasi atau risiko tersesat.
Interpretasi Awadh bin Ali memberikan perspektif sejarah yang kuat. Pada masa hadits ini diucapkan, jalur antara Irak dan Mekkah adalah rute yang penuh risiko. Hamparan padang pasir yang luas menjadi sarang bagi para penyamun, menjadikannya perjalanan yang mempertaruhkan nyawa. Ketika Nabi menjanjikan keamanan mutlak di jalur tersebut, hal itu terdengar seperti sebuah utopia bagi masyarakat abad ke-7.
Secara ilmiah dan interpretatif, fenomena ini menunjukkan tercapainya sebuah peradaban yang mampu menegakkan supremasi hukum secara total. Stabilitas ini bisa merujuk pada beberapa fase sejarah, seperti di masa kejayaan Khilafah Abbasiyah atau masa keemasan di bawah pemerintahan yang kuat di Jazirah Arab.
Namun, para ahli eskatologi juga melihat ini sebagai isyarat tentang modernitas, di mana infrastruktur transportasi dan teknologi keamanan membuat perjalanan ribuan kilometer menjadi jauh lebih aman dibandingkan masa lampau.
Fenomena ini mengundang pertanyaan: mengapa kedamaian menjadi tanda kiamat? Hal ini menunjukkan bahwa kiamat akan tiba saat dunia telah mencapai titik kulminasi dalam hal pembangunan material dan keteraturan sosial.
Keamanan yang tersebar luas mencerminkan kemakmuran dan kuatnya kontrol pemerintahan, sebuah kondisi yang sering kali membuat manusia terlena dan merasa telah menaklukkan tantangan duniawi, sehingga melupakan persiapan spiritual menghadapi akhir zaman.
Awadh bin Ali mengingatkan bahwa tanda-tanda kecil kiamat tidak selalu berbentuk musibah. Kedamaian di jalur Irak-Mekkah adalah bukti autentik dari kebenaran nubuat kenabian. Ketika keamanan telah menjadi hal yang biasa dan ketakutan terhadap sesama manusia telah hilang, jam eskatologis justru sedang berdetak menuju fase-fase akhir.
Kemudahan perjalanan yang kita nikmati hari ini, di mana batas-batas negara dan kecanggihan patroli membuat rasa aman begitu dominan, seharusnya dibaca sebagai isyarat bahwa janji tentang kiamat sedang mendekati kenyataannya.
Kajian ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap kondisi dunia saat ini. Stabilitas keamanan bukan sekadar pencapaian politik atau militer, melainkan sebuah variabel dalam jam pasir waktu kosmik. Ketika seorang musafir bisa melintasi padang pasir tanpa sedikit pun rasa khawatir, itu adalah pesan sunyi dari langit bahwa dunia telah menyelesaikan salah satu babak akhirnya.
(mif)