LANGIT7.ID-Dunia hari ini mungkin terlihat lebih bising dengan informasi, namun di balik hiruk-pikuk jagat digital, sebuah kekosongan besar sedang menganga. Dalam kacamata eskatologi Islam, kemajuan teknologi informasi tidak serta-merta berbanding lurus dengan tegaknya ilmu. Sebaliknya, sosiologi agama melihat adanya pola degradasi otoritas intelektual yang menjadi indikator kuat bagi sebuah transisi zaman.
Dalam literatur klasik yang kembali relevan hari ini, Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra karya ‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah, fenomena ini tidak dilihat sebagai peristiwa kebetulan.
Ia menggarisbawahi bahwa salah satu lonceng peringatan kiamat yang paling nyaring adalah proses mekanis yang disebut sebagai diangkatnya ilmu. Ini bukan berarti buku-buku terbakar atau data digital terhapus, melainkan matinya substansi dan hilangnya para pemegang otoritasnya.
Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini merujuk pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu:
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُArtinya:
Di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu dihilangkan dan kebodohan diteguhkan.
Narasi ini menyodorkan tesis yang tajam tentang kondisi sosial di mana kebodohan bukan lagi sekadar ketiadaan akses informasi, melainkan sesuatu yang mapan, terstruktur, dan diakui secara luas.
Mekanisme Pengikisan OtoritasBagaimana ilmu itu lenyap? Di sinilah poin krusial yang dianalisis oleh para ulama dan cendekiawan. Ilmu tidak dicabut melalui fenomena mistis, melainkan melalui hukum alamiah: kematian.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhuma, Nabi memberikan penjelasan operasional yang sangat logis:
إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِSesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu langsung dari para hamba, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.Secara sosiologis, setiap kali seorang ulama atau ilmuwan besar berpulang, terjadi patahan sejarah. Ada akumulasi kearifan dan kedalaman pemahaman yang tidak selalu bisa diwariskan secara instan melalui teks. Ketika para penjaga gawang intelektual ini satu per satu meninggalkan panggung, maka terciptalah ruang hampa otoritas.
Tragisnya, ruang hampa ini tidak dibiarkan kosong. Di sinilah fenomena kebodohan yang diteguhkan itu muncul. Ketika para ahli yang memiliki integritas dan kapasitas mendalam sudah tiada, masyarakat akan mencari kompas baru untuk menuntun kehidupan mereka.
حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاSehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin.Paradoks Kebisingan Tanpa SubstansiAnalisis ‘Awadh bin ‘Ali ini membawa kita pada refleksi tentang era pasca-kebenaran. Hari ini, setiap orang memiliki mimbar. Panggung otoritas tidak lagi ditentukan oleh rekam jejak akademis atau kedalaman spiritual, melainkan oleh jumlah pengikut dan algoritma media sosial.
Munculnya pemimpin-pemimpin instan yang tidak memiliki akar keilmuan yang kuat menjadi realitas yang mengerikan. Mereka ditanya tentang segala hal, mulai dari masalah hukum, ekonomi, hingga moralitas publik. Hasilnya adalah sebuah kekacauan sistemik:
فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا ، وَأَضَلُّواLalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kesesatan yang dimaksud di sini memiliki dimensi yang luas. Secara intelektual, ini berarti tersebarnya disinformasi. Secara sosial, ini berarti hilangnya tatanan etika. Dan secara eskatologis, ini adalah tanda bahwa tatanan dunia sedang menuju kehancuran karena fondasi kebenaran telah digantikan oleh opini kosong.
Matematika kiamat ini mengingatkan kita bahwa kebodohan yang menjadi tanda kiamat bukanlah buta huruf, melainkan buta akan kebenaran hakiki. Masyarakat mungkin sangat ahli dalam hal-hal teknis dan material, namun mereka kehilangan kompas moral karena tidak lagi memiliki rujukan kepada mereka yang benar-benar ahli.
Kesimpulan dari interpretasi ini jelas: hilangnya para ulama dan menjamurnya pemimpin yang minim kapasitas adalah bentuk kiamat kecil dalam rupa disfungsi peradaban. Kita sedang berdiri di sebuah masa di mana cahaya ilmu mulai redup, digantikan oleh neon-neon opini yang menyilaukan namun menyesatkan.
(mif)