Riana Trish: Saya Menyebut Kanker sebagai Sebuah Keajaiban
Fifiyanti Abdurahman
Senin, 07 Februari 2022 - 08:37 WIB
Riana Trish. Foto: Instagram
Terdiagnosa kanker sejak tahun 2009 hingga saat ini telah mencapai stadium empat metastase otak, tak membuat Riana Trish patah semangat. Ia bahkan telah berdamai dengan penyakit ini, dan menganggapnya sebagai sebuah keajaiban.
"Saya mulai merubah cara pandang dalam hidup bahwa segalanya yang terjadi adalah rangkaian keajaiban. I prefer to call it miracle," katanya saat dihubungi Langit7.
Riana mengatakan memang bukan proses yang mudah untuk berdamai dengan kanker, bahkan ia pernah ingin menyerah.
"Saya masih terus belajar ikhlas dalam perjuangan setiap hari. Kanker di area otak sering menyulitkan saya dalam berkomunikasi, memori, dan bekerja bahkan mengerjakan aktivitas keseharian yang sederhana," ucapnya.
Baca juga: dr Agus: Puasa dan Shalat Subuh ke Masjid Dapat Cegah Kanker
Riana sempatmempertanyakan kenapa kanker menyerang dirinya. Pertanyaan tersebut muncul di tengah kelelahannya melewati itu semua.
"Dulu sempat terlintas, why me?Tapi dalam sekian tahun perjuangan raga dan spiritual yang berliku, bahkan ada saatnya rasanya sungguh melelahkan dan hampir menyerah, saya akhirnya dimampukan untuk menyadari bahwa dari sekian banyak manusia di bumi ini, saya memang 'terpilih' sebagai salah satu pejuang kanker. One of 'the Chosen'. Then, 'why not me'," tambah penulis buku bertajuk I Prefer To Call It Miracle ini.
"Saya mulai merubah cara pandang dalam hidup bahwa segalanya yang terjadi adalah rangkaian keajaiban. I prefer to call it miracle," katanya saat dihubungi Langit7.
Riana mengatakan memang bukan proses yang mudah untuk berdamai dengan kanker, bahkan ia pernah ingin menyerah.
"Saya masih terus belajar ikhlas dalam perjuangan setiap hari. Kanker di area otak sering menyulitkan saya dalam berkomunikasi, memori, dan bekerja bahkan mengerjakan aktivitas keseharian yang sederhana," ucapnya.
Baca juga: dr Agus: Puasa dan Shalat Subuh ke Masjid Dapat Cegah Kanker
Riana sempatmempertanyakan kenapa kanker menyerang dirinya. Pertanyaan tersebut muncul di tengah kelelahannya melewati itu semua.
"Dulu sempat terlintas, why me?Tapi dalam sekian tahun perjuangan raga dan spiritual yang berliku, bahkan ada saatnya rasanya sungguh melelahkan dan hampir menyerah, saya akhirnya dimampukan untuk menyadari bahwa dari sekian banyak manusia di bumi ini, saya memang 'terpilih' sebagai salah satu pejuang kanker. One of 'the Chosen'. Then, 'why not me'," tambah penulis buku bertajuk I Prefer To Call It Miracle ini.