LANGIT7.ID - , Jakarta - Terdiagnosa kanker sejak tahun 2009 hingga saat ini telah mencapai stadium empat metastase otak, tak membuat Riana Trish patah semangat. Ia bahkan telah berdamai dengan penyakit ini, dan menganggapnya sebagai sebuah keajaiban.
"Saya mulai merubah cara pandang dalam hidup bahwa segalanya yang terjadi adalah rangkaian keajaiban.
I prefer to call it miracle, " katanya saat dihubungi Langit7.
Riana mengatakan memang bukan proses yang mudah untuk berdamai dengan kanker, bahkan ia pernah ingin menyerah.
"Saya masih terus belajar ikhlas dalam perjuangan setiap hari. Kanker di area otak sering menyulitkan saya dalam berkomunikasi, memori, dan bekerja bahkan mengerjakan aktivitas keseharian yang sederhana," ucapnya.
Baca juga: dr Agus: Puasa dan Shalat Subuh ke Masjid Dapat Cegah KankerRiana sempat mempertanyakan kenapa kanker menyerang dirinya. Pertanyaan tersebut muncul di tengah kelelahannya melewati itu semua.
"Dulu sempat terlintas,
why me? Tapi dalam sekian tahun perjuangan raga dan spiritual yang berliku, bahkan ada saatnya rasanya sungguh melelahkan dan hampir menyerah, saya akhirnya dimampukan untuk menyadari bahwa dari sekian banyak manusia di bumi ini, saya memang 'terpilih' sebagai salah satu pejuang kanker.
One of 'the Chosen'. Then, 'why not me'," tambah penulis buku bertajuk I Prefer To Call It Miracle ini.
Atas apa yang dialaminya, pencipta lagu "Ku Harus Bisa" ini mengatakan ia percaya Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan dirinya.
"Cukuplah kasih karunia Tuhan untuk saya berprasangka baik bahwa Tuhan memiliki tujuan yang 'indah' dan akan 'sempurna' pada waktunya," tuturnya.
Menurut dia, saat ini ia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri.
"Saya tidak lagi hidup semata untuk saya seorang namun, saya justru mampu melihat dan mengalami begitu luarbiasanya cara Tuhan menyatakan kasih-Nya," imbuhnya.
"Kanker hanyalah salah satu bagian dalam perjalanan saya. Dia tidak satu-satunya yang mendefinisikan tentang diri kita dan karya kita. Bahkan dalam kelemahanku, kuasa Tuhan yang sempurna. To God be the glory," tambahnya.
Kemudian, wanita yang juga aktif di komunitas kanker bersama Yayasan Kanker Indonesia (YKI) lebih spesifik pendampingan pasien kanker usia muda ini berpesan kepada para pejuang kanker bahwa cermati jiwa dengan utuh, bersemangat untuk setiap tantangan yang disajikan oleh semesta.
"Jangan membandingkan diri kita dengan pasien lain. Fokus, tubuh kita sangat spesial dan delicate. Be gently," katanya.
"Sekali lagi, kita itu manusia unik, yang secara unik terpilih. Jalankan lakon-lakon yang telah dipersiapkan hanya untuk kita seorang," tambahnya.
Baca juga: Dokter Muslim Telah Temukan Obat Kanker Sejak Abad ke-12Tak hanya itu, Riana pun mengajak agar penyakit kanker ini dijadikan sebagai alat penggenapan kehendak Tuhan.
"Mari kita jadikan kesesakan-kesesakan kita menjadi media, alat, sarana tentang penggenapan kehendak Tuhan. Tidak lagi tentang kita, tapi apa yang diinginkan Tuhan melalui apapun yang terjadi dalam hidup ini, salah satunya kanker," tutupnya.
(est)