Cerita Inspiratif Pembangunan Sumber Air Ponpes Modern Gontor
Muhajirin
Selasa, 08 Februari 2022 - 16:56 WIB
Ilustrasi (foto: istimewa)
Pernah meneguk Amidas Gontor? Air mineral produksi asli Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur itu memiliki cerita inspiratif.
Air memang menjadi tantangan krusial bagi sebuah pondok pesantren, terlebih pesantren sekaliber Gontor yang memiliki ribuan santri. Cerita ini bermula ketika guru senior Pondok Modern Darussalam Gontor, Ustadz H. Noor Syahid, telah mengabdi selama 6 tahun di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur untuk pengembangan Ponpes Gontor.
Genap enam tahun, KH Abdullah Syukri Zarkasyi memanggil Noor Syahid untuk kembali ke Gontor Pusat. Pengabdian 6 tahun di Mantingan sudah cukup. Ia kembali ke Ponorogo sebagai orang asing, karena orang-orang yang dikenalnya dulu telah tersebar ke seluruh Indonesia.
"Malam-malam saya dipanggil (KH Syukri). Dia mengatakan, 'Kamu di sini itu tidak dikenal oleh siapapun. Kamu sudah meninggalkan pondok selama 6 tahun. Tidak ada yang tahu, teman pun sekarang sudah pergi, pindah. Guru-guru yang kenal kamu sudah pada pulang. Santri-santri (saat ini-red) orang baru semua. Pondok ini diisi orang baru semua.'," kenang Noor Syahid saat dipanggil KH Syukri, dikutip kanal Gontor TV, Selasa (8/2/2022).
Noor Syahid memahami hal itu. Dalam pertemuan itu, KH Syukri tidak berbicara banyak hal, hanya berbicara soal keterasingan. Ia diminta melakukan hal spektakuler agar kembali bisa dikenal oleh penduduk Gontor.Pesan 'sesuatu yang spektakuler' itu selalu terngiang dalam benak Noor Syahid. Ia tak mungkin berdiam diri dan menunggu ide turun dari langit. Sekitar pukul 02.00 malam, ia bangun dan keliling pondok.
"Saya keluar, keliling pondok. Saya cek keran-keran air, sementara sudah ada santri yang bangun, ternyata mau wudhu," ucap Noor Syahid.
Secercah ide muncul dari situ. Kebutuhan air di Ponpes Gontor kala itu masih mengandalkan mesin diesel. Setiap malam, santri bergilir mengambil solar untuk menyalakan diesel. Penampilan para santri itu khas, kaos kotor penuh solar.
Air memang menjadi tantangan krusial bagi sebuah pondok pesantren, terlebih pesantren sekaliber Gontor yang memiliki ribuan santri. Cerita ini bermula ketika guru senior Pondok Modern Darussalam Gontor, Ustadz H. Noor Syahid, telah mengabdi selama 6 tahun di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur untuk pengembangan Ponpes Gontor.
Genap enam tahun, KH Abdullah Syukri Zarkasyi memanggil Noor Syahid untuk kembali ke Gontor Pusat. Pengabdian 6 tahun di Mantingan sudah cukup. Ia kembali ke Ponorogo sebagai orang asing, karena orang-orang yang dikenalnya dulu telah tersebar ke seluruh Indonesia.
"Malam-malam saya dipanggil (KH Syukri). Dia mengatakan, 'Kamu di sini itu tidak dikenal oleh siapapun. Kamu sudah meninggalkan pondok selama 6 tahun. Tidak ada yang tahu, teman pun sekarang sudah pergi, pindah. Guru-guru yang kenal kamu sudah pada pulang. Santri-santri (saat ini-red) orang baru semua. Pondok ini diisi orang baru semua.'," kenang Noor Syahid saat dipanggil KH Syukri, dikutip kanal Gontor TV, Selasa (8/2/2022).
Noor Syahid memahami hal itu. Dalam pertemuan itu, KH Syukri tidak berbicara banyak hal, hanya berbicara soal keterasingan. Ia diminta melakukan hal spektakuler agar kembali bisa dikenal oleh penduduk Gontor.Pesan 'sesuatu yang spektakuler' itu selalu terngiang dalam benak Noor Syahid. Ia tak mungkin berdiam diri dan menunggu ide turun dari langit. Sekitar pukul 02.00 malam, ia bangun dan keliling pondok.
"Saya keluar, keliling pondok. Saya cek keran-keran air, sementara sudah ada santri yang bangun, ternyata mau wudhu," ucap Noor Syahid.
Secercah ide muncul dari situ. Kebutuhan air di Ponpes Gontor kala itu masih mengandalkan mesin diesel. Setiap malam, santri bergilir mengambil solar untuk menyalakan diesel. Penampilan para santri itu khas, kaos kotor penuh solar.