LANGIT7.ID, Jakarta - Pernah meneguk Amidas Gontor? Air mineral produksi asli Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur itu memiliki cerita inspiratif.
Air memang menjadi tantangan krusial bagi sebuah pondok pesantren, terlebih pesantren sekaliber Gontor yang memiliki ribuan santri. Cerita ini bermula ketika guru senior Pondok Modern Darussalam Gontor, Ustadz H. Noor Syahid, telah mengabdi selama 6 tahun di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur untuk pengembangan Ponpes Gontor.
Genap enam tahun, KH Abdullah Syukri Zarkasyi memanggil Noor Syahid untuk kembali ke Gontor Pusat. Pengabdian 6 tahun di Mantingan sudah cukup. Ia kembali ke Ponorogo sebagai orang asing, karena orang-orang yang dikenalnya dulu telah tersebar ke seluruh Indonesia.
"Malam-malam saya dipanggil (KH Syukri). Dia mengatakan, 'Kamu di sini itu tidak dikenal oleh siapapun. Kamu sudah meninggalkan pondok selama 6 tahun. Tidak ada yang tahu, teman pun sekarang sudah pergi, pindah. Guru-guru yang kenal kamu sudah pada pulang. Santri-santri (saat ini-red) orang baru semua. Pondok ini diisi orang baru semua.'," kenang Noor Syahid saat dipanggil KH Syukri, dikutip kanal Gontor TV, Selasa (8/2/2022).
Noor Syahid memahami hal itu. Dalam pertemuan itu, KH Syukri tidak berbicara banyak hal, hanya berbicara soal keterasingan. Ia diminta melakukan hal spektakuler agar kembali bisa dikenal oleh penduduk Gontor.Pesan 'sesuatu yang spektakuler' itu selalu terngiang dalam benak Noor Syahid. Ia tak mungkin berdiam diri dan menunggu ide turun dari langit. Sekitar pukul 02.00 malam, ia bangun dan keliling pondok.
"Saya keluar, keliling pondok. Saya cek keran-keran air, sementara sudah ada santri yang bangun, ternyata mau wudhu," ucap Noor Syahid.
Secercah ide muncul dari situ. Kebutuhan air di Ponpes Gontor kala itu masih mengandalkan mesin diesel. Setiap malam, santri bergilir mengambil solar untuk menyalakan diesel. Penampilan para santri itu khas, kaos kotor penuh solar.
Para santri memikul solar untuk menyalakan 8 mesin diesel. Pada waktu bersamaan, dapur pesantren sudah mulai mengebul. Kompor-kompor minyak tanah mulai dinyalakan. Kondisi itu, kata Noor Syahid, menimbulkan polusi udara, polusi suara, polusi bau, dan polusi warna.
"Ini kondisi pondok jam 3 pagi. Baru santri jam 4 bangun memanfaatkan air yang sudah diisi menggunakan diesel," kata Noor Syahid.
Noor Syahid mendeskripsikan kondisi itu dalam bentuk proposal. Deskripsi keadaan tentu tak cukup. Maka itu, ia mendatangani PDAM Ponorogo untuk berkonsultasi mengenai teknis pengadaan air pondok.
"Saya langsung ke kantor PDAM. Saya kemudian ceritakan, Gontor punya sekitar 3 ribu santri, dan akan dikembangkan menjadi 5 ribu santri. Bagaimana cara mencukupi air untuk mereka. Sementara, sekarang ini dengan 8 diesel menimbulkan polusi udara, polusi suara, polusi bau, polusi warna," kata Noor Syahid.
Noor Syahid mengutarakan keinginan memiliki pompa air seperti milik PDAM. Tidak ada lagi polusi. 5 Santri bisa menggunakan air bersih tanpa harus takut kehabisan. Alhasil, proposal sudah dilengkapi dengan teknis.
Ia langsung membawa proposal tersebut ke KH Syukri, namun tak langsung diterima. Sebab, biaya yang dibutuhkan mencapai kurang lebih Rp100 juta. Itu bukan dana yang sedikit.
Tak kehabisan akal, Noor Syahid lalu mengajukan diri untuk mencari dana sendiri. Syaratnya hanya satu, KH Syukri mau tanda tangan. Usai urusan selesai, ia beranjak ke PDAM Ponorogo meminta persetujuan tanda tangan, lalu berlanjut ke Kantor Bupati dan PDAM Surabaya.
"Lalu ke Surabaya ke PDUAT, yang mengurus air-air di Ponorogo. Saya datang ke sana. Setelah itu, saya ditanya oleh seorang anak muda di situ. Saya jawab, saya mau bawa ke Pak Wakil Presiden," ucap Noor Syahid.
Kala itu, RI-2 dijabat oleh Try Sutrisno yang mendampingi Presiden Soeharto dari 1993-1998. Benar saja, proposal itu bisa sampai ke tangan wakil presiden.
Hingga suatu ketika, Noor Syahid berangkat ke Jakarta bersama KH Syukri bersama rombongan. Saat pagi hari, mereka menyempatkan diri lari pagi di sekitar Monas, Jakarta. Cerita unik pun terjadi di sini.
Saat rombongan Gontor olahraga pagi, mereka disalip satu rombongan memakai baju warna putih berbadan kekar. Dari tengah-tengah rombongan itu terdengar teriakan, "Pak Yai Syukri, sudah saya tandatangani."
"Akhirnya kita berhenti planga-plongo, apa yang sudah ditandatangani. Kiai Nanya, 'Apa itu?' Saya ketawa-ketawa," tutur Noor Syahid.
Di tengah kebingungan itu, KH Syukri bertanya perihal teriakan tersebut. Noor Syahid lalu menjelaskan, rombongan tersebut merupakan rombongan wakil presiden yang dijaga ketat para ajudan.
"Yang sudah ditandatangani itu berarti proposal kita ke sana. 'Lah, proposal apa?' Air yang antum tandatangani itu'," ucap Noor Syahid.
KH Syukri lalu meminta agar mencairkan proposal tersebut pada pukul 10.00 WIB, menjelang siang. Namun ternyata dana pembangunan sumber air Gontor sudah dikirim ke Surabaya. Wakil presiden sudah menginstruksikan PDAM Surabaya untuk membuat sumber air di Gontor dengan destinasi pembangunan selama satu bulan. Hari itu pun, mereka pulang.
Setelah melalui musyawarah, sumber air itu dibangun di hutan-hutan bambu di sekitar Gontor. Alat besar pun berdatangan, hingga pembangunan selesai tepat waktu.
"Inilah spektakulernya. Ketika kemudian satu bulan selesai, diadakan penjernihan air, dan penelitian kualitas, kemudian disemprot dari bawah ke udara. karena air setinggi itulah yang diukur, air naik sampai ke atasnya pohon kelapa. Akhirnya sekarang kita bisa mandi dengan air bersih, terus kemudian juga dengan Amidas Gontor," tutur Noor Syahid.
(jqf)