Rektor Unair: Vaksin Merah Putih Merupakan Vaksin Halal Pertama di Dunia
Amar faisal haidar
Rabu, 09 Februari 2022 - 17:00 WIB
Rektor Universitas Airlangga, Mohammad Nasih memberikan sambutan pada acara Serenoni Uji Klinis Vaksin Nusantara, Rabu (9/2/2022) di Surabaya, Jatim. (foto: humas unair)
Rektor Universitas Airlangga Prof Dr Mohammad Nasih mengklaim vaksin Merah Putih merupakan vaksin halal pertama di dunia.
Menurut Nasih, vaksin Merah Putih telah mengantongi sertifikat halal dari MUI.
“Sertifikat halal tersebut berlaku hingga 6 Februari 2026,” ujar Mohammad Nasih dalam seremoni uji klinis vaksin merah yang digelar di Surabaya, Rabu (9/2/2022).
Nasih mengatakan bahwa meski baru diuji klinis tahap I dan II, pihaknya yakin bisa mencapai status edar meski untuk menuju ke tahap edar masih sangat panjang dan terjal.
Baca juga:Vaksin Merah Putih Akhirnya Masuk Tahap Uji Klinis
“Kami perlu kerja sama dari semua pihak. Oleh karena itu, dukungan dan kerja sama kami mohon untuk dapat terus mengalir agar vaksin ini dapat berkontribusi pada penanganan pandemi Covid-19,” paparnya.
Dalam proses pengembangannya, vaksin merah putih memang menjadi hasil kolaborasi dari berbagai pihak. Tidak hanya UNAIR, namun juga Kementerian Kesehatan RI, RSUD Dr. Soetomo, Badan Riset dan Advokasi Nasional (BRIN), BPOM, Biotis.
Menurut Nasih, vaksin Merah Putih telah mengantongi sertifikat halal dari MUI.
“Sertifikat halal tersebut berlaku hingga 6 Februari 2026,” ujar Mohammad Nasih dalam seremoni uji klinis vaksin merah yang digelar di Surabaya, Rabu (9/2/2022).
Nasih mengatakan bahwa meski baru diuji klinis tahap I dan II, pihaknya yakin bisa mencapai status edar meski untuk menuju ke tahap edar masih sangat panjang dan terjal.
Baca juga:Vaksin Merah Putih Akhirnya Masuk Tahap Uji Klinis
“Kami perlu kerja sama dari semua pihak. Oleh karena itu, dukungan dan kerja sama kami mohon untuk dapat terus mengalir agar vaksin ini dapat berkontribusi pada penanganan pandemi Covid-19,” paparnya.
Dalam proses pengembangannya, vaksin merah putih memang menjadi hasil kolaborasi dari berbagai pihak. Tidak hanya UNAIR, namun juga Kementerian Kesehatan RI, RSUD Dr. Soetomo, Badan Riset dan Advokasi Nasional (BRIN), BPOM, Biotis.