Perjalanan KH As'ad Said Ali, Kiprah Santri di Dunia Intelijen
Jaja Suhana
Ahad, 13 Februari 2022 - 10:05 WIB
KH Asad Said Ali. Foto: Istimewa.
Seorang santri dikenal dengan kepakarannya dalam bidang keagamaan, ia biasanya akan berkarir tidak jauh dari bidang keagamaan. Misalnya di kementerian agama, mengajar agama di pesantren atau sekolah dan lain sebagainya.
Namun berbeda dengan Kiai Haji (KH) As'ad Said Ali, walaupun ia santri namun juga bergelut di dunia intelijen. Kepiawaiannya dalam mencari informasi lewat lobi tokoh-tokoh penting menjadikannya menduduki jabatan penting sampai puncaknya menjadi Wakil Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) periode 2001-2010.
Kiai As'ad kemudian menulis sejarah pengalamannya dalam menjadi seorang intelijen negara, dalam sebuah buku berjudul, "Perjalanan Intelijen Santri". Dalam buku tersebut Kiai As'ad membagikan pengalaman awal mula ia terjun di dunia intelijen serta suka dukanya selama menjalani profesinya tersebut. Seperti saat ia dikirim ke Timur Tengah untuk mencari inormasi terkait jaringan teroris global.
Baca Juga:Cholil Nafis Minta Polri Proporsional Petakan Rumah Ibadah
"Pertama kali saya ingin menghapus kesan negatif intelijen, salah satu penyebabnya mungkin ketakutan rakyat terhadap Belanda pada zaman penjajahan yang selalu mengawasi atau menginteli rakyat Indonesia. Kedua, pada awal era orde baru yang dikenal refresif terhadap rakyat dengan menempatkan intel di berbagai tempat," ujar Kiai As'ad, dalam acara bedah buku di Kampus Universitas Indonesia (UI), belum lama ini.
"Kalau dibiarkan terus akan menjadi benar-benar negatif," lanjutnya.
Menurut dia, Intelijen bukan hanya sekadar mencari keburukan orang lain, namun Intelijen fokus mengumpulkan berita untuk antisipasi. Dalam sebuah negara, intelijen sangat dibutuhkan sebagai penyuplai bahan bagi seorang pemimpin negara untuk mengambil kebijakan. Intelijen juga dapat dimaknai sebagai cabang ilmu pengetahuan.
Namun berbeda dengan Kiai Haji (KH) As'ad Said Ali, walaupun ia santri namun juga bergelut di dunia intelijen. Kepiawaiannya dalam mencari informasi lewat lobi tokoh-tokoh penting menjadikannya menduduki jabatan penting sampai puncaknya menjadi Wakil Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) periode 2001-2010.
Kiai As'ad kemudian menulis sejarah pengalamannya dalam menjadi seorang intelijen negara, dalam sebuah buku berjudul, "Perjalanan Intelijen Santri". Dalam buku tersebut Kiai As'ad membagikan pengalaman awal mula ia terjun di dunia intelijen serta suka dukanya selama menjalani profesinya tersebut. Seperti saat ia dikirim ke Timur Tengah untuk mencari inormasi terkait jaringan teroris global.
Baca Juga:Cholil Nafis Minta Polri Proporsional Petakan Rumah Ibadah
"Pertama kali saya ingin menghapus kesan negatif intelijen, salah satu penyebabnya mungkin ketakutan rakyat terhadap Belanda pada zaman penjajahan yang selalu mengawasi atau menginteli rakyat Indonesia. Kedua, pada awal era orde baru yang dikenal refresif terhadap rakyat dengan menempatkan intel di berbagai tempat," ujar Kiai As'ad, dalam acara bedah buku di Kampus Universitas Indonesia (UI), belum lama ini.
"Kalau dibiarkan terus akan menjadi benar-benar negatif," lanjutnya.
Menurut dia, Intelijen bukan hanya sekadar mencari keburukan orang lain, namun Intelijen fokus mengumpulkan berita untuk antisipasi. Dalam sebuah negara, intelijen sangat dibutuhkan sebagai penyuplai bahan bagi seorang pemimpin negara untuk mengambil kebijakan. Intelijen juga dapat dimaknai sebagai cabang ilmu pengetahuan.