Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home sosok muslim detail berita

Perjalanan KH As'ad Said Ali, Kiprah Santri di Dunia Intelijen

Jaja Suhana Ahad, 13 Februari 2022 - 10:05 WIB
Perjalanan KH As'ad Said Ali, Kiprah Santri di Dunia Intelijen
KH Asad Said Ali. Foto: Istimewa.
LANGIT7.ID, Jakarta - Seorang santri dikenal dengan kepakarannya dalam bidang keagamaan, ia biasanya akan berkarir tidak jauh dari bidang keagamaan. Misalnya di kementerian agama, mengajar agama di pesantren atau sekolah dan lain sebagainya.

Namun berbeda dengan Kiai Haji (KH) As'ad Said Ali, walaupun ia santri namun juga bergelut di dunia intelijen. Kepiawaiannya dalam mencari informasi lewat lobi tokoh-tokoh penting menjadikannya menduduki jabatan penting sampai puncaknya menjadi Wakil Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) periode 2001-2010.

Kiai As'ad kemudian menulis sejarah pengalamannya dalam menjadi seorang intelijen negara, dalam sebuah buku berjudul, "Perjalanan Intelijen Santri". Dalam buku tersebut Kiai As'ad membagikan pengalaman awal mula ia terjun di dunia intelijen serta suka dukanya selama menjalani profesinya tersebut. Seperti saat ia dikirim ke Timur Tengah untuk mencari inormasi terkait jaringan teroris global.

Baca Juga: Cholil Nafis Minta Polri Proporsional Petakan Rumah Ibadah

"Pertama kali saya ingin menghapus kesan negatif intelijen, salah satu penyebabnya mungkin ketakutan rakyat terhadap Belanda pada zaman penjajahan yang selalu mengawasi atau menginteli rakyat Indonesia. Kedua, pada awal era orde baru yang dikenal refresif terhadap rakyat dengan menempatkan intel di berbagai tempat," ujar Kiai As'ad, dalam acara bedah buku di Kampus Universitas Indonesia (UI), belum lama ini.

"Kalau dibiarkan terus akan menjadi benar-benar negatif," lanjutnya.

Menurut dia, Intelijen bukan hanya sekadar mencari keburukan orang lain, namun Intelijen fokus mengumpulkan berita untuk antisipasi. Dalam sebuah negara, intelijen sangat dibutuhkan sebagai penyuplai bahan bagi seorang pemimpin negara untuk mengambil kebijakan. Intelijen juga dapat dimaknai sebagai cabang ilmu pengetahuan.

"Buku ini adalah pengalaman saya, baik sebagai operator di lapangan maupun sebagai pengendali, pengguna, dan penganalisa intelejen," ujarnya.

Baca Juga: HNW Sayangkan Rencana Kepolisian Petakan Masjid dan Pesantren

Alumni Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 1974 itu menceritakan awal mula dirinya menjadi intelijen. Suatu ketika ia ditugaskan duduk di dekat sebuah warung rokok, mengawasi pergerakan orang orang yang berlalu-lalang di dekatnya.

"Setelah tiga bulan dikumpulkan data, dapat diketahui dari pergerakannya mana yang intelejen dan mana yang bukan," katanya.

Ia juga menceritakan, tiga bulan diterjunkan di Aceh (tahun 1981) untuk mengamati masyarakat di sana yang menolak musabaqah tilawatil qur'an (MTQ). Sebagai seorang santri yang selama kuliah juga mondok, kemudian ia bertanya kepada kiainya waktu itu, Kiai Maksum, bagaimana mengatasi problem tersebut. Kiai Maksum kemudian mengirim surat ke murid-muridnya di Aceh dan sejak saat itu MTQ diperbolehkan di sana.

"Dalam dunia intelejen, kita nggak harus benar-benar tahu solusi setiap masalah, tapi tahu bagaimana cara membuka jalan melalui pihak lain. Jadi kita bukan mencari kejelekan orang lain, tapi mencari antisipasi," ujarnya.

Adapun informasi yang dicari intelijen, yaitu berfokus pada antisipasi ancaman. Tingkat ancaman pun ada beberapa level dari yang paling tinggi yakni kritis, di bawahnya ada level ancaman serius, kemudian level ancaman moderat, dan terakhir level ancaman minor.

Baca Juga: DPR Kritik BNPT Ekspos Pesantren Disusupi Terorisme

Untuk operasi di lapangan menurut Kiai As'ad memang dibutuhkan ilmu dan kecakapan dalam menggali informasi dari seorang informan. Menurut dia, hal yang paling susah adalah kontak pertama karena sekalinya gagal maka akan gagal operasi tersebut. Ia harus mempelajari bagaimana karakter orang di berbagai negara agar dapat membuka percakapan dengan baik dan diterima. Kecepatan berpikir menjadi sangat penting bagi seorang intelijen.

"Orang Indonesia menurut para intelijen mudah untuk didekati dan diajak bicara, karena orang-orang Indonesia dikenal ramah dan supel kepada orang lain," kata As'ad.

Menurut Kiai As'ad intelijen penting diisi oleh seorang santri yang memahami ilmu keislaman dengan baik. Hal itu penting untuk mengantisipasi ancaman teror yang mengatasnamakan dirinya umat Islam. ia juga menjelaskan tidak mudah mengubah paradigma seseorang yang berpikiran ekstrim untuk berubah langsung. Diperlukan pendekatan don lobi-lobi untuk mengantisipasinya.

"Prinsipnya terhadap kelompok ekstrim perintah Ali Murtopo (tokoh Intelejen era Soeharto), jadikan yang ekstrim jadi radikal, yang radikal jadikan setengah radikal, setengah radikal jadikan moderat," ujar Kiai As'ad.

"Jadi intelijen itu mencari mana yang berpeluang menjadi ancaman sekecil apapun," ujarnya.

Baca Juga: Pengamat Terorisme Minta Rencana Pemetaan Masjid Dikaji Ulang

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)