LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Komisi VIII DPR RI, Yandri Susanto, mengkritik langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) karena mengekspos data pesantren tersusupi terorisme.
Ini berkaitan dengan pernyataan Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Nurwahid, mengatakan, BNPT mendapatkan data intelijen terkait ratusan pondok pesantren terafiliasi dengan teroris. Semua disebut terafiliasi secara ideologi, politik, dan gangguan keamanan.
Yandri menilai data tersebut hanya menimbulkan keresahan dan prasangka buruk terhadap pesantren di tengah masyarakat. Publik bisa menilai semua pesantren memiliki keterkaitan dengan terorisme.
"Dengan BNPT mengekspos data itu ke publik, maka yang terjadi sekarang justru pesantren mendapatkan stigma negatif, seakan-akan berkaitan dengan teroris. Niatnya menyelesaikan masalah, tapi justru yang muncul masalah baru," kata Yandri melalui keterangan tertulis, Sabtu (29/1/2022).
Seharusnya, kata dia, temuan tersebut dibicarakan dengan pemuka agama tanpa diekspos. Sehingga, berbagai langkah konkret bisa dilakukan tanpa menimbulkan kegaduhan atau masalah baru.
"Sebagai Ketua Komisi VIII DPR RI, saya siap menjadi fasilitator dialog antara pesantren dan BNPT, serta umat Islam secara umum. Jangan sampai yang ada justru saling curiga dan prasangka," ucapnya.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu meminta BNPT terbuka mengenai parameter yang digunakan ketika mengategorikan pesantren terafiliasi dengan terorisme. Sehingga bisa dilakukan langkah perbaikan.
"Apa parameter yang digunakan untuk melabel pesantren terafiliasi dengan teroris, apakah pengajarnya, kurikulumnya, atau apanya? BNPT harus terbuka soal ini," ujar Yandri.
(jqf)