Kinerja Asuransi Syariah Kembali Sumringah
Fajar adhitya
Senin, 28 Juni 2021 - 11:28 WIB
Ilustrasi kenaikan penggunaan asuransi syariah di masa pandemi Covid-19. Foto: AASI
Kinerja asuransi syariah kembali merangkak naik pada kuartal pertama tahun ini. Pandemi Covid-19 membuat minat masyarakat terhadap perlindungan asuransi syariah meninggi, menjadi penopang kepercayaan investor menanamkan modalnya.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Tatang Hidayat mengambarkan, terjadi kenaikan pendapatan premi yang luar biasa karena mampu tumbuh 45,29 persen pada kuartal pertama 2021 dibanding kuartal yang sama tahun lalu. Nilainya mencapai Rp5,82 triliun.
Kondisi asuransi syariah yang mulai membaik ini diharapkan dapat menjadi modal untuk melesat lebih kencang lagi seiring membaiknya perekonomian nasional. Sehingga, kata Tatang, lini asuransi syariah bisa turut menggairahkan perekonomian syariah.
"Ini bisa jadi pesan semua pihak baik regulator, investor, pelaku usaha peserta yang menunjukkan bahw asuransi syariah siap menyongsong dan jadi tulang punggung perekonomian syariah," katanya dalam konferensi pers virtual Kinerja dan Analisa Industri Asuransi Syariah Indonesia Triwulan I-2021, Senin minggu kedua Juni 2021.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2021 tercatat minus 0,74 persen. Sektor jasa kuangan menyumbang angka minus 2,99 persen dalam pembentukan angka negatif pertumbuhan ekonomi. Dengan angka jasa keuangan yang minus, aset asuransi syariah justru naik 7,32 persen menjadi Rp44,13 triliun.
Porsi aset industri didominasi oleh asuransi jiwa sebesar Rp35,9 triliun atau 81,37 persen. Kemudian ditambah aset asuransi umum syariah senilai Rp6,14 triliun atau menyumbang 13,9 persen dan reasuransi syariah senilai Rp2,08 triliun atau 4,71 persen.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Tatang Hidayat mengambarkan, terjadi kenaikan pendapatan premi yang luar biasa karena mampu tumbuh 45,29 persen pada kuartal pertama 2021 dibanding kuartal yang sama tahun lalu. Nilainya mencapai Rp5,82 triliun.
Kondisi asuransi syariah yang mulai membaik ini diharapkan dapat menjadi modal untuk melesat lebih kencang lagi seiring membaiknya perekonomian nasional. Sehingga, kata Tatang, lini asuransi syariah bisa turut menggairahkan perekonomian syariah.
"Ini bisa jadi pesan semua pihak baik regulator, investor, pelaku usaha peserta yang menunjukkan bahw asuransi syariah siap menyongsong dan jadi tulang punggung perekonomian syariah," katanya dalam konferensi pers virtual Kinerja dan Analisa Industri Asuransi Syariah Indonesia Triwulan I-2021, Senin minggu kedua Juni 2021.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2021 tercatat minus 0,74 persen. Sektor jasa kuangan menyumbang angka minus 2,99 persen dalam pembentukan angka negatif pertumbuhan ekonomi. Dengan angka jasa keuangan yang minus, aset asuransi syariah justru naik 7,32 persen menjadi Rp44,13 triliun.
Porsi aset industri didominasi oleh asuransi jiwa sebesar Rp35,9 triliun atau 81,37 persen. Kemudian ditambah aset asuransi umum syariah senilai Rp6,14 triliun atau menyumbang 13,9 persen dan reasuransi syariah senilai Rp2,08 triliun atau 4,71 persen.