Kreativitas Mahasiswi Difabel Netra Unair Hasilkan 3 Novel
Muhajirin
Senin, 14 Februari 2022 - 10:28 WIB
Dhawy (tengah) berpose dengan karyanya, diapit dua dosen FIB Unair (foto: unair.ac.id)
Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Huriyah Dhawy Febrianti, berhasil menerbitkan tiga novel selama setahun. Dhawy, sapaan akrabnya, sebenarnya sudah lama ingin menulis novel. Baru pada 2019 keinginannya itu terwujud.
Kondisi sebagai difabel netra tak menghalanginya berkarya. Ia sebelumnya terbiasa menulis puisi, bahkan berhasil menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi sejak 2017.
“Aku mencoba untuk keluar dari zona nyamanku. Ikut parade menulis novel, menantang diri sendiri, ternyata setelah dijalani seru juga,” ungkap Dhawy, silansir dari situs FIB Unair.
Sampaikan Isu Sosial
Dhawy selalu berusaha menyuarakan isu sosial dalam novel karyanya. Meski demikian, ia tetap menuliskannya dengan bahasa yang ringan dan jenaka. Dalam Novel pertamanya, Keterpurukan Kedua, Dhawy mengangkat tema kesehatan mental dan emosional, yang sering terjadi pada remaja.
“Pergaulan remaja itu sangat kental dengan bullying. Dalam novelku, aku membahas tentang bagaimana seorang teman seharusnya bersikap dan menjadikan remaja itu diterima, bukan di-bully,” katanya.
Masih membahas kehidupan remaja, Dhawy mengangkat tema kehidupan berorganisasi pada novel keduanya, Creative Life, Creative Project. Mahasiswa yang juga aktif berorganisasi di luar kampus itu mengakui pengalamannya selama berorganisasi tidak selalu baik. Terkadang, seseorang mengalami penolakan dalam organisasi tersebut.
Kondisi sebagai difabel netra tak menghalanginya berkarya. Ia sebelumnya terbiasa menulis puisi, bahkan berhasil menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi sejak 2017.
“Aku mencoba untuk keluar dari zona nyamanku. Ikut parade menulis novel, menantang diri sendiri, ternyata setelah dijalani seru juga,” ungkap Dhawy, silansir dari situs FIB Unair.
Sampaikan Isu Sosial
Dhawy selalu berusaha menyuarakan isu sosial dalam novel karyanya. Meski demikian, ia tetap menuliskannya dengan bahasa yang ringan dan jenaka. Dalam Novel pertamanya, Keterpurukan Kedua, Dhawy mengangkat tema kesehatan mental dan emosional, yang sering terjadi pada remaja.
“Pergaulan remaja itu sangat kental dengan bullying. Dalam novelku, aku membahas tentang bagaimana seorang teman seharusnya bersikap dan menjadikan remaja itu diterima, bukan di-bully,” katanya.
Masih membahas kehidupan remaja, Dhawy mengangkat tema kehidupan berorganisasi pada novel keduanya, Creative Life, Creative Project. Mahasiswa yang juga aktif berorganisasi di luar kampus itu mengakui pengalamannya selama berorganisasi tidak selalu baik. Terkadang, seseorang mengalami penolakan dalam organisasi tersebut.