LANGIT7.ID, Jakarta - Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Huriyah Dhawy Febrianti, berhasil menerbitkan tiga novel selama setahun. Dhawy, sapaan akrabnya, sebenarnya sudah lama ingin menulis novel. Baru pada 2019 keinginannya itu terwujud.
Kondisi sebagai difabel netra tak menghalanginya berkarya. Ia sebelumnya terbiasa menulis puisi, bahkan berhasil menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi sejak 2017.
“Aku mencoba untuk keluar dari zona nyamanku. Ikut parade menulis novel, menantang diri sendiri, ternyata setelah dijalani seru juga,” ungkap Dhawy, silansir dari situs
FIB Unair.
Sampaikan Isu SosialDhawy selalu berusaha menyuarakan isu sosial dalam novel karyanya. Meski demikian, ia tetap menuliskannya dengan bahasa yang ringan dan jenaka. Dalam Novel pertamanya,
Keterpurukan Kedua, Dhawy mengangkat tema kesehatan mental dan emosional, yang sering terjadi pada remaja.
“Pergaulan remaja itu sangat kental dengan
bullying. Dalam novelku, aku membahas tentang bagaimana seorang teman seharusnya bersikap dan menjadikan remaja itu diterima, bukan di-
bully,” katanya.
Masih membahas kehidupan remaja, Dhawy mengangkat tema kehidupan berorganisasi pada novel keduanya,
Creative Life, Creative Project. Mahasiswa yang juga aktif berorganisasi di luar kampus itu mengakui pengalamannya selama berorganisasi tidak selalu baik. Terkadang, seseorang mengalami penolakan dalam organisasi tersebut.
“Sebagai penulis, aku ingin menyuarakan dan mengembangkan suka dukanya berorganisasi. Tidak selalu dari pengalamanku, tapi juga dari cerita teman dan pengalaman orang,” tambah dia.
Karya terbarunya,
Real Child vs Childish, membahas isu keluarga. Dhawy tertarik mengangkat isu tersebut karena masih banyaknya orang tua sering membandingkan anak-anaknya satu sama lain.
Selesaikan Satu Novel dalam Satu BulanMengikuti parade menulis membuat Dhawy harus menyelesaikan novel-novelnya dalam kurun waktu 30 hari. Setiap hari, Dhawy harus menyetorkan minimal satu bab. Awalnya, hal tersebut membuatnya hampir menyerah dan menangis setiap malam.
“Sehari nggak setor bakal didiskualifikasi. Aku pernah setiap 5 menit sekali ketiduran dan selalu dibangunin mama. Bahkan, aku hampir mau menarik naskah, tetapi mama selalu kasih dukungan ke akuuntuk ga menyerah dan meyakinkan kalau aku bisa,” kenangnya.
Mahasiswa yang juga aktif menyanyi itu mengaku sempat kehabisan ide dalam menyelesaikan novelnya. Menonton film dan membaca buku jenaka menjadi beberapa cara mengatasi hal itu.
“Semua bukuku tersedia di
Google Playbook. Untuk buku fisiknya sendiri bisa pesan ke aku langsung,” tuturnya.
Di akhir, Dhawy berpesan anak muda mesti mengeluarkan keresahannya. Keresahan yang mungkin dianggap remeh mungkin akan berdampak luar biasa jika mampu kita kelola dengan baik.
“Kita juga perlu berteman dengan
insecurity yang dirasakan.
Senyumin aja, terima dan sadari, jangan jadikan alasan sebagai penghenti langkah kita,” tuturnya.
(jqf)