home edukasi & pesantren

Rasul dan Ramadhan, Sambutan Suka Cita dan Gemuruh Spiritual

Kamis, 17 Februari 2022 - 15:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, menyebut Rasulullah mempersiapkan diri secara maksimal tiap menyambut bulan suci Ramadhan. Persiapan rasul tak hanya bersifat jasmani, namun paduan jasmani dan rohani.

Oleh karena itu, ia disyariatkan paling akhir di antara ibadah wajib lainnya. Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan baru berlaku pada tahun kedua hijriah. Saat itu, umat Islam dalam kondisi yang sulit. Mereka baru saja memulai kehidupan baru di Kota Madinah.

Bagi Rasulullah dan umat Islam, Ramadhan adalah momentum yang sangat mahal sekali. Ini karena bulan agung tersebut adalah musim segala kebaikan. Suka cita dan kebahagiaan, mengiring mereka semua dalam menyambut kehadiran bulan mulia ini.

"Ramadhan pertama pada tahun kedua hijriah disambut dengan suka-cita, dengan gemuruh spiritual yang sangat luar biasa," kata Asep melalui kanal YouTube Sirah Community Indonesia, dikutip Kamis (17/2/2022).

Saat kewajiban itu turun kepada baginda Nabi Muhammad, umat Islam sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka harus berjalan begitu jauh, sekitar 150 km lebih, ke luar kota Madinah.

Perjalanan tersebut untuk menyongsong satu titik perjuangan pertama yang sanagt fenomenal dalam sejarah, yakni Perang Badar. Artinya, saat menghadap bulan Ramadhan, mereka menyiapkan kekuatan rohani dan jasmani untuk meraih kebaikan puncak.

"Kebaikan puncak mereka yang pertama kali adalah kemenanan besar di bulan Ramadhan. Ramadhan selalu disambut kebahagiaan yang tidak terhingga, mereka selalu diliputi oleh suka-cita yang tidak bisa diukur oleh perasaan manusia biasa," ucap Asep.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
akhlak rasulullah anjuran rasulullah perilaku rasulullah ramadhan bulan ramadhan
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya