Seni Wayang di Gontor, Unjuk Kreativitas Santri Lestarikan Budaya
Muhajirin
Kamis, 24 Februari 2022 - 13:00 WIB
Pementasan wayang orang berbahasa Arab oleh santri Pondok Modern Darussalam Gontor (foto: gontor tv)
Seni wayang menjadi salah satu instrumen dakwah yang digunakan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan syiar Islam. Wayang sering disebut sebagai kesenian lintas zaman yang dilestarikan hingga kini.
Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, kesenian wayang menjadi salah satu pementasan yang ditampilkan para santri.
Ada dua seni wayang digelar hampir secara rutin di Pondok Gontor. Wayang orang berbahasa Arab digelar setiap tahun dalam pentas seni santri Panggung Gembira, dan wayang kulit ulang tahun pondok tiap satu dekade.
Baca Juga: Menengok Dapur Rekaman Nasyid Gontor, Dakwah Santri Lewat Karya Seni
Nasab dakwah melalui budaya ini diwarisi Gontor secara turun temurun melalui para leluhurnya. Terkhusus dari Mbah Sulaiman Jamal, dari jalur mertuanya Mbah Kholifah bin Kyai Ageng Muhammad Besari. Mbah Ageng mewarisi budaya itu dari sang guru Mbah Yai Donopuro, Jetis. Mbah Donopuro mewarisinya dari Mbah Sumende Ragil dari Mbahnya Sunan Tembayat atau Adipati Pandanaran murid Sunan Kalijaga.
Pendidikan di Gontor memang dirancang dan dijalankan dengan metode modern, terkhusus pembentukan karakter lewat pementasan dan karya seni. Setiap tahun, Gontor memiliki banyak hajatan senin yang rutin digelar, di antaranya wayang orang menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, kesenian wayang menjadi salah satu pementasan yang ditampilkan para santri.
Ada dua seni wayang digelar hampir secara rutin di Pondok Gontor. Wayang orang berbahasa Arab digelar setiap tahun dalam pentas seni santri Panggung Gembira, dan wayang kulit ulang tahun pondok tiap satu dekade.
Baca Juga: Menengok Dapur Rekaman Nasyid Gontor, Dakwah Santri Lewat Karya Seni
Nasab dakwah melalui budaya ini diwarisi Gontor secara turun temurun melalui para leluhurnya. Terkhusus dari Mbah Sulaiman Jamal, dari jalur mertuanya Mbah Kholifah bin Kyai Ageng Muhammad Besari. Mbah Ageng mewarisi budaya itu dari sang guru Mbah Yai Donopuro, Jetis. Mbah Donopuro mewarisinya dari Mbah Sumende Ragil dari Mbahnya Sunan Tembayat atau Adipati Pandanaran murid Sunan Kalijaga.
Pendidikan di Gontor memang dirancang dan dijalankan dengan metode modern, terkhusus pembentukan karakter lewat pementasan dan karya seni. Setiap tahun, Gontor memiliki banyak hajatan senin yang rutin digelar, di antaranya wayang orang menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab.