Menengok Dapur Rekaman Nasyid Gontor, Dakwah Santri Lewat Karya Seni
MuhajirinSenin, 20 September 2021 - 07:54 WIB
Seorang santri sedang dalam proses rekaman untuk Nasyid Gontor (foto: Gontor TV))
LANGIT7.ID, Ponorogo - Tak hanya belajar ilmu agama, berkarya di jalur musik religi keislaman atau biasa dikenal nasyid sudah menjadi salah satu ciri khas santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Mereka berdakwah menggunakan media tarik suara untuk mensyiarkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat luas.
Tak asal menyanyi dan berkarya, para santri dibimbing ustadz-nya serius menciptakan lagu, rekaman hingga memproduksi video klip. Bak video klip musisi profesional, hasil akhir dari Nasyid Gontor ditayangkan di YouTube Gontor TV dan bisa dinikmati jutaan pemirsa.
Pesan ilahiah dalam bait syair disertai instrumental karya santri Gontor menjadi medium dakwah yang mengena. Liriknya sangat sederhana namun penuh makna, dengan musik yang nyaman di telinga, membuat pesan tersebut mudah diterima oleh semua elemen masyarakat.
Dengan Nasyid Gontor, inspirasi kehidupan madani di Kampung Damai Darussalam Gontor, berikut segala pelajaran dan hikmah kehidupannya, bisa disaksikan dari seluruh penjuru dunia.
LANGIT7.ID berkesempatan mewawancarai pihak-pihak yang berperan dalam produksi nasyid para santri ini, Ustadz Riza Ashari, M.Pd.I. dan Ustadz M. Taufiq Affandi, M.Sc. Beliau berdua menjelaskan dapur rekaman dan kisah dibalik Nasyid Gontor, berikut wawancaranya:
Bagaimana awal para santri rekaman nasyid dan bisa produksi konten nasyid yang punya kualitas profesional?
Visi misi serta nilai yang ditanamkan Gontor mendidik santri untuk dapat berdakwah dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Salah satu bentuk dakwah tersebut adalah berdakwah dengan karya lagu berbentuk nasyid.
Santri mencoba berkarya dengan membuat lagu dengan lirik yang terinspirasi dari nilai (value) yang mereka pelajari di Gontor, seperti hadits, mahfudzot (kata mutiara), maupun falsafah hidup yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di Gontor. Tidak berhenti di situ, agar lagu tersebut bisa dinikmati dan disampaikan kepada publik maka mereka membuat video clipnya.
Hal itu didukung dengan alat dan SDM yang ada di pondok; bagian rekaman belajar untuk memberikan hasil rekaman yang baik; demikian juga dalam pembuatan video clip mereka mempelajari dari video clip yang kekinian.
Dalam perjalanannya, berbagai workshop dalam hal recording, sinematografi, editing dlsb diadakan untuk terus meningkatkan kualitas. Termasuk di antara para pemateri workshop tersebut adalah para dosen IKJ (Institut Kesenian Jakarta) serta praktisi perfilman dan recording.
Hal ini juga merupakan wujud bahwa pondok mendidik santri menjadi manusia yang dinamis, suka belajar, dan modern. Bisa diceritakan proses produksi, mulai dari penciptaan lagu hingga dapur rekamannya?
Proses pembuatan lagu dapat bervariasi, tergantung pada pencipta atau kelompok santri itu sendiri. Namun demikian umumnya tahapan proses pembuatanya adalah dimulai dari tahap perencanaan, dimana santri menuliskan liriknya berdasarkan dari pengalaman pendidikan, nilai pendidikan dan ajaran yang didapatkan baik di kelas, kamar atau pondok.
Dilanjutkan dengan pengajuan lagu tersebut kepada para musyrif (pembimbing). Lagu yang telah ditinjau, dikoreksi, serta disetujui oleh musyrif akan masuk ke proses selanjutnya.
Tahap berikutnya mereka berlatih sembari membuat konsep musik yang mereka ciptakan dari lirik lagu yang ada. Bila tahap latihan dirasa cukup maka dilanjutkan dengan tahap rekaman (recording), mixing dan mastering. Hasil mastering diajukan untuk dievaluasi oleh bagian terkait. Setelah evaluasi, dilanjutkan dengan editing menurut catatan evaluasi. Lalu diajukan untuk pengesahan. Baru tahap akhir adalah tahap publikasi. Keseluruhan proses tersebut bertujuan untuk MENDIDIK.
Santri yang bernasyid beragam?apakah tiap kelas atau marhalah membuat grup nasyidnya masing-masing? atau bagaimana pembentukan grup nasyid itu?
Untuk memotivasi serta meningkatkan daya kreatif santri maka grup nasyid terbentuk baik dari marhalah, rayon, dan ada juga kelompok nasyid yang memang dimiliki oleh pondok itu sendiri, seperti ANSYADA.
Dalam pembentukan grup, seleksi anggota dilakukan oleh musyrif marhalah ataupun dari inisiatif diri santri itu sendiri sedangkan jika grup tersebut berbasis kelas atau asrama, dengan mempertimbangkan karakter suara yang dibutuhkan.
Banyak talenta luar biasa di Gontor, bagaimana mereka berlatih bernasyid? setelah lulus dari Pesantren adakah yang jadi musisi profesional?
Gontor mendidik santri 24 jam. Kegiatan di Gontor didesain sedemikian rupa sehingga tidak terlepas dan nilai-nilai pendidikan; baik saat santri berada di dalam dan di luar kelas.
Santri berlatih nasyid di sore atau malam hari saat mereka sedang tidak belajar di kelas. Dengan berlatih nasyid bersama, mereka belajar untuk mengembangkan teamwork, communication skill, disiplin, integritas, komitmen, serta rasa tanggung jawab.
Nilai-nilai pendidikan karakter inilah yang mereka bawa saat mereka lulus nanti dan mengabdikan diri mereka ke masyarakat. Santri Gontor ditempa untuk memiliki cognitive flexibility sehingga mereka dapat secara luwes menyesuaikan diri dengan medan pengabdian mereka nanti di masyarakat. Menjadi apapun, santri Gontor harus terus membawa nilai dan karakter yang telah ditanamkan Gontor pada mereka.
Pesan apa saja yang ingin disampaikan dari nasyid Gontor?
Pesan yang ingin disampaikan beragam pada tiap nasyid. Antara lain pesannya adalah agar kita kembali kepada Allah, mencintai orang tua, meneguhkan kebhinekaan di nusantara, membangun persaudaraan, serta cinta ilmu.
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.