home masjid

Bunyi-Bunyian Speaker Masjid Sebagai Kearifan Lokal

Kamis, 24 Februari 2022 - 20:35 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan surat edaran yang menjadi pedoman penggunaan speaker atau pengeras suara di masjid dan mushala. Edaran ini dimaksudkan untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama.

Edaran bernomor SE 05 tahun 2022 berisi sejumlah pedoman dan tata cara penggunaan pengeras suara untuk melantunkan adzan, tarhim, shalawat, tadarus, dzikir, ceramah, khutbah, hingga pelaksanaan hari besar keagamaan. Yaqut menginginkan masjid tidak menjadi sumber kebisingan.

Masjid sebagai bagian dari perangkat keagamaan harus menghadirkan kenyamanan di tengah heterogenitas. Pada saat yang sama, speaker di masjid merupakan kebutuhan bagi umat Islam sebagai salah satu media syiar.

Baca Juga:Kemenag: Menag Yaqut Tak Bandingkan Adzan dengan Suara Anjing

Secara historis masjid pertama di Indonesia yang dilengkapi pengeras suara adalah Masjid Agung Surakarta. Kees Van Dijk peneliti asal Belanda memberikan keterangan bagaimana orang barat menunjukkan ketidaksenangan terhadap suara adzan yang ditimbulkan dari pelantang, padahal merekalah yang pertama kali mengenalkan teknologi tersebut ke orang-orang tempatannya di Hindia Belanda (Hendaru, 2018).

Bagi masyarakat Islam di Indonesia, tarhim yang disenandungkan sebelum shalat, adzan yang menggema ke sudut-sudut kota atau desa, takbir pada hari raya adalah budaya yang tak bisa dihilangkan. Terlebih pada momentum Ramadhan, pengeras suara yang difungsikan untuk membangunkan sahur dan pemberitahuan waktu buka sudah menjadi kearifan lokal.

Panshaiskpradi, dalam "Resepsi Khalayak Mengenai Tarhim" (Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 2 2019) menuliskan, tarhim adalah produk budaya yang dihasilkan oleh Islam sebagai agama yang merupakan bagian sebuah sistem budaya. Sebagaimana pernyataan Clifford Geertz yang menyebutkan bahwa pada dasarnya agama merupakan sistem kultural yang memberikan makna dalam eksistensi manusia (Morris, 2003: 393).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
bangunan masjid pengeras suara masjid kearifan lokal
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya