Konflik Rusia-Ukraina
Salah Kutip, Anggota Parlemen Muslim di Inggris Dapat Ancaman Kematian
Fifiyanti Abdurahman
Senin, 28 Februari 2022 - 12:02 WIB
Anggota parlemen Muslim di Inggris, Zarah Sultana. Foto: Facebook
Anggota parlemen Muslim Inggris dari Partai Buruh, Zarah Sultana menerima ancaman pembunuhan dan pelecehan rasis akibat pandangannya tentang Ukraina.
"Saya tidak ragu bahwa serangan yang mengerikan dan tidak masuk akal ini adalah akibat langsung dari laporan media yang tidak akurat dan komentar pers yang dengan sengaja menyesatkan," tulis Sultana dalam unggahan di Facebook.
Stasiun radio lokal BBC meminta maaf kepadanya awal pekan ini, karena salah mengutip pernyataan bahwa Sultana telah "menyarankan NATO bertanggung jawab atas krisis di Ukraina".
Baca juga: Tragedi bagi Rakyat, Dua Miliarder Rusia Serukan Akhiri Konflik
Sementara itu, seorang Konservatif di Coventry, di mana Sultana adalah anggota parlemen, menyebutnya sebagai "penghasut untuk Rusia-nya Putin," tulisnya.
"Saya harus menjelaskan pada tahap ini bahwa tuduhan ini telah melewati batas dari salah ke berbahaya," tambahnya.
Lebih lanjut, Sultana berkata sebagai anggota parlemen, dirinya tidak mungkin melupakan bahwa dua rekannya telah dibunuh dalam beberapa tahun terakhir.
"Saya tidak ragu bahwa serangan yang mengerikan dan tidak masuk akal ini adalah akibat langsung dari laporan media yang tidak akurat dan komentar pers yang dengan sengaja menyesatkan," tulis Sultana dalam unggahan di Facebook.
Stasiun radio lokal BBC meminta maaf kepadanya awal pekan ini, karena salah mengutip pernyataan bahwa Sultana telah "menyarankan NATO bertanggung jawab atas krisis di Ukraina".
Baca juga: Tragedi bagi Rakyat, Dua Miliarder Rusia Serukan Akhiri Konflik
Sementara itu, seorang Konservatif di Coventry, di mana Sultana adalah anggota parlemen, menyebutnya sebagai "penghasut untuk Rusia-nya Putin," tulisnya.
"Saya harus menjelaskan pada tahap ini bahwa tuduhan ini telah melewati batas dari salah ke berbahaya," tambahnya.
Lebih lanjut, Sultana berkata sebagai anggota parlemen, dirinya tidak mungkin melupakan bahwa dua rekannya telah dibunuh dalam beberapa tahun terakhir.