Sarat Kepentingan Politik, Umat Islam Jangan Terjebak di Konflik Rusia-Ukraina
Muhajirin
Senin, 28 Februari 2022 - 21:08 WIB
Tentara Ukraina di perbatasan (foto: BBC)
Dosen Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia, Pizaro Gozali Idrus, menilai umat Islam di Rusia dan Ukraina rentan dimanfaatkan untuk kepentingan politik dalam perang di negara tersebut.
Hal ini bisa dilihat saat Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov, mengorganisir muslim Chechnya melawan Ukraina. Kadyrov adalah seorang politisi, bukan ideolog. Dia akan melakukan apa saja untuk melayani kepentingan Putin karena telah berjasa membawanya menjadi Presiden Republik Chechnya pada 2007.
"Jadi, umat Islam tidak boleh terjebak melihat peristiwa ini dan harus jernih memandang masalah konflik Ukraina-Rusia. Karena banyak Muslim di Tanah Air umumnya hanya mengandalkan medsos yang banyak tidak sesuai dengan realitas di lapangan," kata Pizaro kepada LANGIT7.ID, Senin (28/2/2022).
Mufti Krimea Aider Rustemov sudah meminta tentara muslim yang bertugas di tentara Rusia (Kaukasus, Tatarstan and Bashkortostan) untuk meninggalkan unit mereka. Ia takut mereka dipaksa berperang melawan saudara muslim di Ukraina.
"Jadi perang ini rentan mengadu domba sentimen Muslim yang dapat memecah belah kesatuan umat Muslim di Rusia dan Ukraina," Ucap Pizaro.
Baca juga: Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Tim Indonesia Batal ke Polandia
Jumlah muslim di Ukraina ada 400.000 orang. Mayoritas mereka berasal dari Muslim Tatar. Pada 2014, saat Krimea dianeksasi Rusia, puluhan ribu dari Muslim Tatar harus mengungsi dari rumah mereka.
Hal ini bisa dilihat saat Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov, mengorganisir muslim Chechnya melawan Ukraina. Kadyrov adalah seorang politisi, bukan ideolog. Dia akan melakukan apa saja untuk melayani kepentingan Putin karena telah berjasa membawanya menjadi Presiden Republik Chechnya pada 2007.
"Jadi, umat Islam tidak boleh terjebak melihat peristiwa ini dan harus jernih memandang masalah konflik Ukraina-Rusia. Karena banyak Muslim di Tanah Air umumnya hanya mengandalkan medsos yang banyak tidak sesuai dengan realitas di lapangan," kata Pizaro kepada LANGIT7.ID, Senin (28/2/2022).
Mufti Krimea Aider Rustemov sudah meminta tentara muslim yang bertugas di tentara Rusia (Kaukasus, Tatarstan and Bashkortostan) untuk meninggalkan unit mereka. Ia takut mereka dipaksa berperang melawan saudara muslim di Ukraina.
"Jadi perang ini rentan mengadu domba sentimen Muslim yang dapat memecah belah kesatuan umat Muslim di Rusia dan Ukraina," Ucap Pizaro.
Baca juga: Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Tim Indonesia Batal ke Polandia
Jumlah muslim di Ukraina ada 400.000 orang. Mayoritas mereka berasal dari Muslim Tatar. Pada 2014, saat Krimea dianeksasi Rusia, puluhan ribu dari Muslim Tatar harus mengungsi dari rumah mereka.