Ambisi Kuasai Metaverse, Microsoft Akuisisi Activision Blizzard
Ummu hani
Selasa, 01 Maret 2022 - 23:05 WIB
Kantor Pusat Microsoft Prancis, Issy-les-Moulineaux. (Foto: Langit7.id/iStock)
Raksasa teknologi, Microsoft umumkan akuisisi penerbit game Activision Blizzard senilai USD68,7 miliar atau sekitar Rp986 triliun. Akuisisi ini merupakan salah satu cara Microsoft menguasai bisnis Metaverse, dunia virtual untuk bekerja dan bermain.
"Game adalah kategori paling dinamis dan menarik dalam hiburan di semua platform saat ini dan akan memainkan peran kunci dalam pengembangan platform Metaverse," ujar CEO Microsoft, Satya Nadella dalam keterangan resminya, dikutip Langit7, Selasa (1/3/2022).
Baca juga:Bukan Meta, Microsoft Berpotensi Kuasai Metaverse
Sebelumnya, CEO dan Co-Founder CIAS, Dr. Indrawan Nugroho mengatakan banyak pihak menilai bahwa Microsoft akan menjadi perusahaan yang pertama kali membawa manusia ke dalam dunia Metaverse. Menurutnya, sasaran awal Metaverse adalah dunia pekerjaan.
"Cara ini serupa pada pertengahan tahun 80-an, di mana perusahaan-perusahaan dunia mulai banyak mengadopsi komputer untuk kebutuhan kerja karyawan karena dianggap lebih efektif," kata Indrawan.
"Itu juga akan berlaku pada proyek perangkat Virtual Reality (Microsoft), di mana banyak karyawan perusahaan yang ingin meningkatkan kolaborasi pekerjaan jarak jauh. Nantinya, karyawan juga akan tertarik menggunakan perangkat Virtual Reality di luar pekerjaan. Hingga kemudian terjadi adobsi besar-besaran," lanjutnya.
Baca juga:Ini Alasan Mark Zuckerberg Ubah Facebook Jadi Meta
"Game adalah kategori paling dinamis dan menarik dalam hiburan di semua platform saat ini dan akan memainkan peran kunci dalam pengembangan platform Metaverse," ujar CEO Microsoft, Satya Nadella dalam keterangan resminya, dikutip Langit7, Selasa (1/3/2022).
Baca juga:Bukan Meta, Microsoft Berpotensi Kuasai Metaverse
Sebelumnya, CEO dan Co-Founder CIAS, Dr. Indrawan Nugroho mengatakan banyak pihak menilai bahwa Microsoft akan menjadi perusahaan yang pertama kali membawa manusia ke dalam dunia Metaverse. Menurutnya, sasaran awal Metaverse adalah dunia pekerjaan.
"Cara ini serupa pada pertengahan tahun 80-an, di mana perusahaan-perusahaan dunia mulai banyak mengadopsi komputer untuk kebutuhan kerja karyawan karena dianggap lebih efektif," kata Indrawan.
"Itu juga akan berlaku pada proyek perangkat Virtual Reality (Microsoft), di mana banyak karyawan perusahaan yang ingin meningkatkan kolaborasi pekerjaan jarak jauh. Nantinya, karyawan juga akan tertarik menggunakan perangkat Virtual Reality di luar pekerjaan. Hingga kemudian terjadi adobsi besar-besaran," lanjutnya.
Baca juga:Ini Alasan Mark Zuckerberg Ubah Facebook Jadi Meta