Bukan Cuma Hilal, Begini Cara Tentukan Awal Ramadhan dengan Hisab
Mahmuda attar hussein
Senin, 07 Maret 2022 - 11:45 WIB
Ilustrasi pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadhan. (Foto: Istimewa).
Ada dua metode untuk menentukan awal Ramadhan, yaitu melihat hilal dan hisab atau perhitungan khusus. Ada pola matematis dan astronomis mengacu pada kalender hijriyah.
Pakar FalakMuhammadiyah, Oman Fathurrahman mengatakan, perhitungan hisab ini tercantum dalam sejumlah ayat Alquran, seperi Ar-Rahman dan Yunus.
Adapun ar-Rahman ayat 5 artinya: "Matahari dan Bulan (beredar) menurut perhitungan." Kemudian Yunus ayat 5 berbunyu: "Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)."
Baca Juga:Amalan Spesial di Bulan Sya’ban, Persiapan Masuki Ramadhan
"Kedua ayat di atas menunjukkan matahari dan bulan memiliki sistem peredaran yang ditetapkan oleh Sang Pencipta dan peredarannya dapat dihitung," kata dia dalam keterangannya, dikutip Senin (7/3/2022).
Menurutnya, peredaran matahari dan bulan yang dapat dihitung bukan sekadar informasi, melainkan isyarat agar dapat dimanfaatkan dalam penentuan bilangan tahun dan perhitungan waktu secara umum.
"Penetapan awal bulan itu bisa dengan hisab atau perhitungan. Kalau kita memahami bulan dan matahari beredar menurut perhitungan, kita bisa memprediksi, mengukur, menentukan dengan pasti, dan akurat," katanya.
Pakar FalakMuhammadiyah, Oman Fathurrahman mengatakan, perhitungan hisab ini tercantum dalam sejumlah ayat Alquran, seperi Ar-Rahman dan Yunus.
Adapun ar-Rahman ayat 5 artinya: "Matahari dan Bulan (beredar) menurut perhitungan." Kemudian Yunus ayat 5 berbunyu: "Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)."
Baca Juga:Amalan Spesial di Bulan Sya’ban, Persiapan Masuki Ramadhan
"Kedua ayat di atas menunjukkan matahari dan bulan memiliki sistem peredaran yang ditetapkan oleh Sang Pencipta dan peredarannya dapat dihitung," kata dia dalam keterangannya, dikutip Senin (7/3/2022).
Menurutnya, peredaran matahari dan bulan yang dapat dihitung bukan sekadar informasi, melainkan isyarat agar dapat dimanfaatkan dalam penentuan bilangan tahun dan perhitungan waktu secara umum.
"Penetapan awal bulan itu bisa dengan hisab atau perhitungan. Kalau kita memahami bulan dan matahari beredar menurut perhitungan, kita bisa memprediksi, mengukur, menentukan dengan pasti, dan akurat," katanya.