Tawakkul Karman, Perempuan Arab Pertama Peraih Nobel Perdamaian
Garry Talentedo Kesawa
Selasa, 27 Juli 2021 - 16:15 WIB
Tawakkul Karman saat menerima penghargaan nobel perdamaian (foto: nobelpeaceprize.org)
Yaman adalah salah satu negara di Timur Tengah yang tergolong negara dengan tradisi yang konservatif, dimana kaum perempuan lebih banyak diminta menjalankan peran domestik saja. Belum lagi soal kasus perkawinan di bawah umur yang kerap menghiasi halaman pertama surat kabar di Yaman.
Kegelisahan akan hal tersebut sangat dirasakan oleh Tawakkul Karman, muslimah yang giat memperjuangkan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Yaman. Karman kerap terlihat menghiasi foto-foto pemberitaan tentang Yaman dengan megafon di depan mulutnya dan satu tangannya mengepal di udara.
Untuk diketahui, Karman memang sangat memperjuangkan nasib kaumnya, terutama masyarakat di Yaman. Ia sejak lama memperjuangkan agar sedikitnya 30 persen posisi di kantor pemerintahan bisa dihuni oleh perempuan.
Selain dikenal sebagai pegiat HAM, Tawakkul juga merupakan seorang wartawati yang kritis. Pada tahun 2005, Karman ikut mendirikan kelompok Women Journalists Without Chains, yang bertujuan mempromosikan kebebasan berekspresi dan hak-hak demokratis di Yaman.
Dalam rentan waktu 2007 hingga 2010, Karman memimpin demonstrasi di Tahrir Square, Sana'a. Ia menentang rezim Yaman yang dipimpin Presiden Ali Abdullah Saleh, yang saat itu sedang terjadi gejolak politik di negara tersebut.
Berkat kegigihan dalam upaya memperjuangkan hak-hak asasi manusia, Tawakkul Karman meraih Nobel Perdamaian pada 2011 di usianya saat itu 32 tahun. Ia tercatat sebagai perempuan Arab pertama sekaligus perempuan di Yaman yang meraih prestasi bergengsi tersebut.
Latar Belakang
Kegelisahan akan hal tersebut sangat dirasakan oleh Tawakkul Karman, muslimah yang giat memperjuangkan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Yaman. Karman kerap terlihat menghiasi foto-foto pemberitaan tentang Yaman dengan megafon di depan mulutnya dan satu tangannya mengepal di udara.
Untuk diketahui, Karman memang sangat memperjuangkan nasib kaumnya, terutama masyarakat di Yaman. Ia sejak lama memperjuangkan agar sedikitnya 30 persen posisi di kantor pemerintahan bisa dihuni oleh perempuan.
Selain dikenal sebagai pegiat HAM, Tawakkul juga merupakan seorang wartawati yang kritis. Pada tahun 2005, Karman ikut mendirikan kelompok Women Journalists Without Chains, yang bertujuan mempromosikan kebebasan berekspresi dan hak-hak demokratis di Yaman.
Dalam rentan waktu 2007 hingga 2010, Karman memimpin demonstrasi di Tahrir Square, Sana'a. Ia menentang rezim Yaman yang dipimpin Presiden Ali Abdullah Saleh, yang saat itu sedang terjadi gejolak politik di negara tersebut.
Berkat kegigihan dalam upaya memperjuangkan hak-hak asasi manusia, Tawakkul Karman meraih Nobel Perdamaian pada 2011 di usianya saat itu 32 tahun. Ia tercatat sebagai perempuan Arab pertama sekaligus perempuan di Yaman yang meraih prestasi bergengsi tersebut.
Latar Belakang