LANGIT7.ID - Yaman adalah salah satu negara di Timur Tengah yang tergolong negara dengan tradisi yang konservatif, dimana kaum perempuan lebih banyak diminta menjalankan peran domestik saja. Belum lagi soal kasus perkawinan di bawah umur yang kerap menghiasi halaman pertama surat kabar di Yaman.
Kegelisahan akan hal tersebut sangat dirasakan oleh Tawakkul Karman, muslimah yang giat memperjuangkan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Yaman. Karman kerap terlihat menghiasi foto-foto pemberitaan tentang Yaman dengan megafon di depan mulutnya dan satu tangannya mengepal di udara.
Untuk diketahui, Karman memang sangat memperjuangkan nasib kaumnya, terutama masyarakat di Yaman. Ia sejak lama memperjuangkan agar sedikitnya 30 persen posisi di kantor pemerintahan bisa dihuni oleh perempuan.
Selain dikenal sebagai pegiat HAM, Tawakkul juga merupakan seorang wartawati yang kritis. Pada tahun 2005, Karman ikut mendirikan kelompok
Women Journalists Without Chains, yang bertujuan mempromosikan kebebasan berekspresi dan hak-hak demokratis di Yaman.
Dalam rentan waktu 2007 hingga 2010, Karman memimpin demonstrasi di Tahrir Square, Sana'a. Ia menentang rezim Yaman yang dipimpin Presiden Ali Abdullah Saleh, yang saat itu sedang terjadi gejolak politik di negara tersebut.
Berkat kegigihan dalam upaya memperjuangkan hak-hak asasi manusia, Tawakkul Karman meraih Nobel Perdamaian pada 2011 di usianya saat itu 32 tahun. Ia tercatat sebagai perempuan Arab pertama sekaligus perempuan di Yaman yang meraih prestasi bergengsi tersebut.
Latar BelakangTawakkul Karman lahir di Yaman, 7 Februari 1979. Mengikuti jejak sang ayah sebagai pengacara dan politisi, Tawakkul Karman memilih kuliah jurusan politik di Universitas Sana'a.
Setelah lulus, wanita berhijab ini menjadi seorang jurnalis sekaligus politikus. Ia aktif memimpin perjuangan hak asasi manusia terutama kaum perempuan, untuk demokrasi dan perdamaian di Yaman.
Karman kemudian menikah dengan Mohammed al-Nahmi. Kini, mereka telah dikaruniai tiga orang anak. Meski begitu, Karman masih terus memperjuangkan hak asasi dan demokrasi hingga level internasional, termasuk di PBB.
Hadiah untuk Revolusi YamanUsai memenangkan Nobel Perdamaian, Karman mengindikasikan bahwa hadiah tersebut sebagai isyarat berakhirnya era penguasa otoritas di kawasan. Ia pun mendedikasikannya untuk seluruh gerakan pembebasan di negara Arab.
Komite Nobel menilai Karman layak menerima hadiah karena perannya sebagai pendukung perubahan secara damai. Meski begitu, Karman juga beberapa kali mendapat teror ancaman pembunuhan. Namun, ia tetap optimis memandang masa depan.
Kepada surat kabar Swiss, Karman mengkritik negara barat yang memprediksi akan terjadi perang saudara di Yaman. "Anda akan melihat Yaman adalah negara yang beradab dan damai. Kami akan mengejutkan dunia," kata Karman.
Tidak hanya kaum perempuan saja yang mengagumi sosok muslimah berusia 42 tahun itu, tapi kaum laki-laki juga mendukungnya. Tawakkul Karman lalu dijuluki sebagai "Ibu Revolusi" di Yaman.
Suarakan Solidaritas Untuk Palestina dan Negara ArabHari ini Tawakkul Karman masih terus vokal menyampaikan pembelaannya. Tidak hanya untuk hak-hak perempuan namun juga membela negara-negara muslim yang terjajah seperti Palestina. Saat penyerangan Israel ke Masjidil Aqsha hingga ke Gaza beberapa waktu lalu, Karman mengecam Israel dan menyebutnya telah melakukan banyak kejahatan dan terorisme terhadap Palestina.
"Israel menduduki tanah itu, menyerang orang-orang, dan melakukan kejahatan teroris yang tak terhitung jumlahnya terhadap Palestina," kata Karman dilansir dari Anadolu Agency.
Tak hanya itu, baru saja Karman menyampaikan solidaritasnya kepada rakyat Tunisia atas
penodaan demokrasi yang dilakukan oleh Presiden Tunisia Kais Saied. Karman menuduh Saied telah mengkhianati para pemilihnya dan menyebut keputusannya untuk memberhentikan pemerintah sebagai upaya kontra-revolusi yang akan membawa Tunisia kembali kepada otoritarianisme."Kais Saied hanyalah seorang komplotan kudeta yang mengkhianati para pemilihnya. Apa yang terjadi di Tunisia hanyalah sebuah kontra-revolusi yang bergabung dengan kelompok kontra-revolusi yang dibuat oleh Riyadh dan Abu Dhabi untuk menggulingkan Musim Semi Arab.” kata Karman dilansir dari Daily Sabah.
(jqf)