LANGIT7.ID-, -
Sabida Thaised, Menteri Kebudayaan Thailand, menjadi angin segar dalam lanskap politik Negeri Gajah Putih yang kerap didominasi wajah-wajah lama.
Lebih dari perubahan posisi, pengangkatan
Sabida Thaised menggeser paradigma tata kelola budaya Thailand.
Sabida tercatat sebagai Muslimah pertama yang menjabat posisi
Menteri Kebudayaan Thailand. Kehadiran perempuan kelahiran 1984 ini dalam kabinet Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra menjadi simbol
inklusivitas Thailand.
Baca juga: Muslimah Boleh Berkarier seperti Istri Nabi SAW Siti KhadijahIa membuktikan bahwa identitas agama dan latar belakang etnis bukanlah penghalang untuk melestarikan dan memajukan warisan nasional negara yang mayoritas beragama Buddha ini.
“Thailand memiliki banyak identitas. Tugas saya bukan hanya melestarikan satu warna, tetapi memastikan bahwa seluruh spektrum budaya kita, dari kuil hingga masjid, dari pegunungan hingga pantai, menjadi kekuatan yang bersatu dan diakui oleh dunia,” kata
Sabida dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Majoriti pada Ahad (4/1/2026).
Sabida bukanlah politisi dadakan. Meskipun menyandang status sebagai putra tokoh politik berpengaruh, Chada Thaised dari provinsi Uthai Thani, Sabida telah membangun reputasinya sendiri melalui pendidikan dan pengalaman administrasi.
Ia meraih gelar Magister Hukum (LLM) dari Universitas Assumption, Sabida pernah memegang tanggung jawab sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri sebelum dipercayakan untuk memimpin kementerian yang sering digambarkan sebagai penjaga 'jiwa' Thailand.
Baca juga: Fadhlina Sidek, Muslimah Pertama Jadi Menteri Pendidikan MalaysiaPengangkatannya dipandang sebagai langkah strategis Paetongtarn Shinawatra dalam memperkuat persatuan nasional lewat representasi kelompok minoritas. di samping mendukung agenda pembangunan nasional yang lebih inklusif.
Dalam susunan kabinet Thailand yang terdiri dari 35 menteri dan seorang Perdana Menteri, Sabida memegang posisi penting.
Seperti diketahui, Thailand tengah sedang gencar-gencarnya mendorong strategi
soft power untuk menghidupkan kembali perekonomian pasca-pandemi.
Sosok Sabida dinilai mampu menjembatani antara warisan budaya dan ekonomi kreatif modern. Sebagai Muslim keturunan Pathan, Sabida membawa perspektif baru bahwa keragaman budaya bukan hanya identitas sosial, tetapi juga aset bernilai tinggi yang dapat ditonjolkan di tingkat global.
Lewat visi yang dikenal sebagai semangat 'Thai Thai', Sabida mencoba mengangkat budaya Thailand bukan hanya sebagai warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi global.
Baca juga: Nazma Khan, Muslimah Amerika Serikat Pencetus World Hijab DayDi bawah kepemimpinannya, Kementerian Kebudayaan diharapkan dapat memainkan peran yang lebih aktif sebagai penggerak industri kreatif yang inklusif, melibatkan semua warga negara tanpa memandang latar belakang.
Salah satu fokus utama Sabida adalah memperkuat posisi Thailand sebagai pusat festival internasional. Festival budaya seperti Songkran dan Loy Krathong dipromosikan secara agresif sebagai daya tarik global, bukan hanya ritual lokal.
Di samping itu, Sabida juga menyoroti potensi budaya Islam Thailand di kancah internasional, seperti kerajinan tangan tradisional dari provinsi selatan dan festival makanan halal otentik, sehingga menunjukkan keragaman budaya sejati negara Gajah Putih.
Sementara di dunia digital, Sabida mendorong kolaborasi antara pemerintah dan kreator konten untuk mempromosikan aset negara melalui media sosial dan platform streaming.
Bagi Sabida,
soft power yang efektif adalah kekuatan yang memiliki dampak organik pada kehidupan sehari-hari masyarakat global, mulai dari desain sutra Thailand modern hingga diplomasi kuliner internasional.
"Keberhasilan budaya tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi sejauh mana gaya hidup Thailand memengaruhi tren global," katanya.
Baca juga: Rayyanah Barnawi, Muslimah Saudi Pertama yang Terbang ke Luar AngkasaSabida mengatakan, kekuatan sejati budaya terletak pada keberanian untuk membawanya ke masa depan tanpa menyangkal nilai spiritualnya.
"Budaya adalah aset hidup. Manfaat ekonominya harus dirasakan oleh masyarakat, tanpa mengorbankan identitas dan jiwa bangsa," tegasnya. (Sumber: Majoriti
(est)