Sifat Materialisme seperti Air Laut, Semakin Diminum Semakin Haus
Mahmuda attar hussein
Rabu, 09 Maret 2022 - 10:25 WIB
Ilustrasi sifat materialisme. (Foto: Istimewa).
Sifat materalisme itu seperti meminum air laut. Semakin banyak diminum justru membuat semakin haus. Sikap ini harus dijauhi bila ingin mengembangkan bisnis.
Bagi para pengusaha baru, seringkali keuntungan bisnis yang didapatkan hanya digunakan untuk suatu kebutuhan konsumtif yang berujung pamer. Padahal selain untuk kebutuhan hidup dan ekspansi, keuntungan bisnis juga perlu diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Mentor Bisnis sekaligus pendiri Yukbisnis.com, Jaya Setiabudi mengatakan, agar penghasilan bisnis tetap mendapatkan berkah berlimpah, maka perlu disalurkan ke orang yang membutuhkan.
Baca Juga:Marak Pamer Syariah demi Personal Branding, Ini Kata Mentor Bisnis
"Saya pun pernah keuntungan bisnis beli Mercy, kemudian tambah sukses, lalu beli lagi BMW, dan tambah lagi Mini Cooper. Alhamdulillah setelah itu bisnis bangkrut dan dijual semua. Allah sayang sama saya, dan cemburu dengan kemelekatan saya terhadap harta," kata dia dikanal YouTube Jaya Setiabudi, dikutip Rabu (9/3/2022).
Dari pengalamannya itu, dia mengaku adanya rasa candu dan ingin menaikkan dosis yang berdampak pada ambisi sebagai pengusaha. Sehingga mengalami semakin sedikit waktu untuk keluarga dan agama demi mengejar harta untuk membeli impian semu.
Pria kelahiran Semarang, 27 April 1973 yang memutuskan menjadi mualaf ini menjelaskan, cara mencegah dan mengobati materialisme yakni melalui pemahaman suatu kaidah yang disebut naluri atau gharizah.
Bagi para pengusaha baru, seringkali keuntungan bisnis yang didapatkan hanya digunakan untuk suatu kebutuhan konsumtif yang berujung pamer. Padahal selain untuk kebutuhan hidup dan ekspansi, keuntungan bisnis juga perlu diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Mentor Bisnis sekaligus pendiri Yukbisnis.com, Jaya Setiabudi mengatakan, agar penghasilan bisnis tetap mendapatkan berkah berlimpah, maka perlu disalurkan ke orang yang membutuhkan.
Baca Juga:Marak Pamer Syariah demi Personal Branding, Ini Kata Mentor Bisnis
"Saya pun pernah keuntungan bisnis beli Mercy, kemudian tambah sukses, lalu beli lagi BMW, dan tambah lagi Mini Cooper. Alhamdulillah setelah itu bisnis bangkrut dan dijual semua. Allah sayang sama saya, dan cemburu dengan kemelekatan saya terhadap harta," kata dia dikanal YouTube Jaya Setiabudi, dikutip Rabu (9/3/2022).
Dari pengalamannya itu, dia mengaku adanya rasa candu dan ingin menaikkan dosis yang berdampak pada ambisi sebagai pengusaha. Sehingga mengalami semakin sedikit waktu untuk keluarga dan agama demi mengejar harta untuk membeli impian semu.
Pria kelahiran Semarang, 27 April 1973 yang memutuskan menjadi mualaf ini menjelaskan, cara mencegah dan mengobati materialisme yakni melalui pemahaman suatu kaidah yang disebut naluri atau gharizah.