LANGIT7.ID, Jakarta - Saat ini lahir istilah baru yakni
pamer syariah yang tujuannya untuk personal branding. Kondisi ini menyebabkan munculnya sikap materialisme.
Mentor bisnis, Jaya Setiabudi menyebutkan, setidaknya terdapat beberapa kategori pamer syariah. Salah satunya seperti pamer sedekah, demi personal branding.
"Terlepas dari dalil yang memperbolehkan atau menyarankan untuk disembunyikan, pamer sedekah yang saya maksud ini lebih cenderung untuk personal branding," jelas dia dikanal YouTubenya, Jaya Setiabudi, dikutip Selasa (8/3/2022).
Baca Juga: Lawan Flexing dan Investasi Bodong, Firman Siregar Gagas @KuliahSaham untuk Edukasi PublikMenurutnya, menjual ayat menjadi cara cepat untuk menarik audiensi di era spiritual saat ini. Namun masalahnya, perlu diperhatikan apakah yang menggunakan ayat suci ini amanah atau tidak.
"Sudah jelas banyak kasus sedekah yang berbuntut kepentingan pribadi," jelasnya.
Selanjutnya pamer pencapaian materi dengan dalih beli tunai. Biasanya golongan ini mencemooh golongan ngutangers atau ribaers, baik utang ataupun tunai.
Dampak dari aktivitas ini adalah menstimulasi materialisme. Modusnya mirip dengan pemasar jaringan, karena bisnis modelnya memang merangsang para penjual di organisasinya untuk menjual lebih banyak.
"Memang materialisme itu bahan bakar yang manjur banget untuk para pengejar sukses semu," ujarnya.
Pamer syariah yang lainnya yakni sombong but humble. Istilah baru ini memang terbilang keren, yakni memamerkan sesuatu dengan cara halus.
Biasanya, seseorang pamer melalui candaan, atau menunjukkan kekayaan tapi tidak secara langsung. Ujungnya tetap sama, yakni personal branding untuk mendapatkan pengagum lebih.
Pria yang akrab disapa Mas J ini mengatakan, peran orang tua menjadi penting untuk menjauhkan anak-anaknya dari capaian sukses berdasarkan materialisme.
Bahayanya, lanjut dia, jika para orang tua yang justru terkontaminasi dengan makna sukses materialisme. Sebab sukses secara materialisme memang menjadi pemahaman mayoritas saat ini.
"Mereka bahkan tidak sadar bahwa mereka disebut materialis. Saya sendiri mengamati beberapa kawan-kawan pengusaha yang ngoyo membeli supercar hanya untuk masuk ke crazy rich club. Alasannya untuk bisa bergaul dengan orang superkaya dan untuk mendapatkan peluang lebih besar."
"Kemudian saya nyeletuk nih, 'menurutmu perkumpulan itu banyak yang saleh atau tidak' dan dia menjawab spontan 'tidak lah mas.' Case closed," tegasnya.
(bal)