Imam Ad-Dirouty, Ulama Penjual Buah yang Lantang di Depan Penguasa
Muhajirin
Jum'at, 11 Maret 2022 - 14:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Pada masa Dinasti Mamluk (para mantan budak), hidup seorang ulama Al-Azhar yang faqih dan zuhud yakni Al-Imam Syamsuddin Ad-Dirouty Ad-Dimyathy. Beliau mengarang kitab di antaranya Surur Ar-Raghibin Syarah Minhaj At-Thalibin Imam Nawawi.
Sehari-hari, Imam Ad-Dirouty berdagang mentimun dan sayuran. Beliau tak pernah mau mengambil upah dari pekerjaannya sebagai ahli fiqih. Beliau juga sangat melarang murid-muridnya untuk makan dari harta wakaf ataupun sedekah orang, karena hal itu akan mengotori hati mereka.
Dalam kitab Qadhiyah At-Tasawuf, Al-Munqidh Min Ad-Dholal karya Dr Abdul Halim Mahmud dikisahkan, Imam Ad-Dirouty hidup pada masa Sultan Qansuh Al-Ghuri (1441 M-1516 M), salah satu sultan dari Dinasti Mamluk. Dia mengkritik Sultan Al-Ghuri saat diam dari berjihad melawan pasukan musuh yang semakin mengancam Mesir.
Baca juga: Ibnu Hajar al-Asqalani, Ulama Yatim Piatu dengan Segudang Ilmu
Dia menyampaikan kritik secara terang-terangan, hingga kritik itu sampai ke telinga Sultan Al-Ghuri. Imam Ad-Dirouty dipanggil ke istana. Sampai di istana, ia memberikan salam kepada Sultan Al-Ghuri, namun tidak dijawab.
Imam Ad-Dirouty berkata, "Jika kau tidak menjawab salamku maka kau adalah orang fasik dan sebentar lagi kau akan diturunkan dari jabatanmu". Al-Ghuri pun terpaksa menjawab salam Imam.
"Kenapa Anda mengkritik saya karena meninggalkan jihad, padahal anda tahu bahwa kami tidak punya kapal untuk berperang?" tanya Al-Ghuri.
Sehari-hari, Imam Ad-Dirouty berdagang mentimun dan sayuran. Beliau tak pernah mau mengambil upah dari pekerjaannya sebagai ahli fiqih. Beliau juga sangat melarang murid-muridnya untuk makan dari harta wakaf ataupun sedekah orang, karena hal itu akan mengotori hati mereka.
Dalam kitab Qadhiyah At-Tasawuf, Al-Munqidh Min Ad-Dholal karya Dr Abdul Halim Mahmud dikisahkan, Imam Ad-Dirouty hidup pada masa Sultan Qansuh Al-Ghuri (1441 M-1516 M), salah satu sultan dari Dinasti Mamluk. Dia mengkritik Sultan Al-Ghuri saat diam dari berjihad melawan pasukan musuh yang semakin mengancam Mesir.
Baca juga: Ibnu Hajar al-Asqalani, Ulama Yatim Piatu dengan Segudang Ilmu
Dia menyampaikan kritik secara terang-terangan, hingga kritik itu sampai ke telinga Sultan Al-Ghuri. Imam Ad-Dirouty dipanggil ke istana. Sampai di istana, ia memberikan salam kepada Sultan Al-Ghuri, namun tidak dijawab.
Imam Ad-Dirouty berkata, "Jika kau tidak menjawab salamku maka kau adalah orang fasik dan sebentar lagi kau akan diturunkan dari jabatanmu". Al-Ghuri pun terpaksa menjawab salam Imam.
"Kenapa Anda mengkritik saya karena meninggalkan jihad, padahal anda tahu bahwa kami tidak punya kapal untuk berperang?" tanya Al-Ghuri.