LANGIT7.ID, Jakarta -
Ibnu Hajar al-Asqalani, begitulah namanya dikenal banyak orang. Dia merupakan
ulama yang masyhur, berkat kekayaan ilmunya, khususnya ilmu hadis dan fikih.
Namun siapa sangka, Ibnu Hajar al-Asqalani merupakan seorang yatim-piatu sedari kecil. Diketahui, ayahnya meninggal saat dia baru berusia empat tahun, yang kemudian disusul ibunya.
Dilansir laman resmi
Nadhlatul Ulama, Ibnu Hajar al-Asqalani dilahirkan pada bulan Syakban, 773 hijriah, dan dikenal sebagai seorang faqih dan muhaddits. Ibnu Hajar al-Asqalani kecil diasuh oleh Zakiuddin Abu Bakar al-Kharubi sebagai wali sahnya.
Baca Juga: Mengenal Berke Khan, Penguasa Mongol Pertama yang Masuk IslamDi bawah asuhan Abu Bakar al-Kharubi, dia tidak hanya dicukupi kebutuhannya secara materi, tapi juga dalam hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Setahun setelah ayahnya wafat, Abu Bakar menitipkan Ibnu Hajar pada sebuah lembaga pendidikan.
Di tempat itu dia belajar ilmu pengetahuan, dan Al-Quran menjadi pelajaran pertama yang dipelajarinya. Bahkan, semua ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran pun dia pelajari, mulai dari makharijul huruf, cara baca Quran, hingga menghafalnya.
Menginjak usia sembilan tahun, Ibnu Hajar sudah mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran dengan sempurna, di bawah bimbingan Imam Muhammad bin Abdurrazaq as-Sifthi.
Semenjak itu, Ibnu Hajar al-Asqalani mulai haus akan ilmu pengetahuan. Bahkan, separuh waktu hidupnya dihabiskan untuk mempelajari dan menghafal berbagai kitab.
Berkat hal itu, keilmuan Ibnu Hajar al- Asqalani semakin matang dan luas hingga memberikan pengaruh besar dalam perkembangan Islam. Dia mulai diperhatikan dan disegani oleh para ulama, di mana pendapatnya menjadi rujukan, khususnya dalam mazhab Syafi’iyah.
Keilmuannya itu menjadikan Ibnu Hajar al-Asqalani memiliki banyak julukan. Di antaranya al-muhaddits (ahli hadits), al-faqih (ahli fiqih), al-mufassir (ahli tafsir), serta amirul mu’minin (pemimpin orang beriman).
Di sisi lain, Ibnu Hajar tidak hanya belajar dan menghafal kita-kitab terdahulu. Dia juga menjadi salah satu ulama produktif yang menghasilkan beberapa kitabnya sendiri.
Adapun beberapa kitab karangan Ibnu Hajar al-Asqalani yakni al-Isabah fi Tamyizis Sahabah, Fathul Bari, Lisanul Mizan, Tahdzibut Tahdzib, Ta’jilul Manfa’ah, al-Ihtifal bi Bayani Ahwalir Rijal, ad-Durarul Kaminah, Nuzhatul Albab, Ta’rifu Ahlit Taqdis, dan lainnya.
Ibnu Hajar al-Asqalani wafat wafat pada tahun 852 Hijriah. Dengan meninggalkan karya yang mencerminkan intelektualitasnya dalam peradaban Islam.
(bal)