Dulu Manajer BUMN Sekarang Juragan Kambing, Berusaha Mencari Berkah
Mahmuda attar hussein
Rabu, 28 Juli 2021 - 13:00 WIB
Didi bersama presiden Jokowi dalam satu kesempatan. Foto: Instagram @bhuminararya
Menduduki jabatan mumpuni di sebuah perusahaan besar tentu menjadi impian banyak orang. Berbagai fasilitas dan kemudahan jadi alasan. Jarang orang yang rela melepaskan jabatan dan keluar dari zona nyaman.
Salah seorang yang jarang itu ternyata dilakoni Didi. Manajer di perusahaan BUMN ini memutuskan mundur untuk beralih profesi menjadi peternak kambing. Terdengar sepele memang, karena beternak kambing identik dengan masyarakat pedesaan yang dianggap memiliki kelas ekonomi menengah ke bawah.
“Sejak 2000 saya putuskan untuk mundur dari BUMN, bisa dibilang saya memiliki penghasilan dan fasilitas yang lebih dari cukup saat itu. Tapi dari beternak kambing ini, saya bisa lebih mendapatkan rasa bahagia, syukur, dan merdeka atas sebuah makna hidup,” katanya dikanal Youtube CapCapung.
Bhumi Nararya Farm, peternakan Didi di Yogyakarta ini merupakan peternakan kambing perah, yang bisnis utamanya adalah melakukan breeding, mulai dari perkawinan, pemerahan indukan, hingga perawatan cempe (anakan kambing) dengan menggunakan sistem kandang individu agar ternak tetap terjaga dan terkontrol.
“Kami dapat cempe, susunya kami perah, sisanya kami jual. Jadi cempe mendapatkan susu secukupnya dari induk yang kami, sisa susunya kami jual. Sehingga kami mendapatkan keuntungan secara menyeluruh,” ujarnya.
Bagi peternak kambing perah seperti Didi, kandang menjadi prioritas utama dalam sebuah pembuatan peternakan. Didi selalu memastikan perawatan dan kebersihan kandangnya untuk membuat pekerja, pembeli, dan ternak tetap nyaman.
Menurutnya, peternakan kambing perah lebih sustainable dibandingkan yang lain. Selain itu, susu kambing saat ini semakin memasyarakat dan mengalami peningkatan permintaan.
Salah seorang yang jarang itu ternyata dilakoni Didi. Manajer di perusahaan BUMN ini memutuskan mundur untuk beralih profesi menjadi peternak kambing. Terdengar sepele memang, karena beternak kambing identik dengan masyarakat pedesaan yang dianggap memiliki kelas ekonomi menengah ke bawah.
“Sejak 2000 saya putuskan untuk mundur dari BUMN, bisa dibilang saya memiliki penghasilan dan fasilitas yang lebih dari cukup saat itu. Tapi dari beternak kambing ini, saya bisa lebih mendapatkan rasa bahagia, syukur, dan merdeka atas sebuah makna hidup,” katanya dikanal Youtube CapCapung.
Bhumi Nararya Farm, peternakan Didi di Yogyakarta ini merupakan peternakan kambing perah, yang bisnis utamanya adalah melakukan breeding, mulai dari perkawinan, pemerahan indukan, hingga perawatan cempe (anakan kambing) dengan menggunakan sistem kandang individu agar ternak tetap terjaga dan terkontrol.
“Kami dapat cempe, susunya kami perah, sisanya kami jual. Jadi cempe mendapatkan susu secukupnya dari induk yang kami, sisa susunya kami jual. Sehingga kami mendapatkan keuntungan secara menyeluruh,” ujarnya.
Bagi peternak kambing perah seperti Didi, kandang menjadi prioritas utama dalam sebuah pembuatan peternakan. Didi selalu memastikan perawatan dan kebersihan kandangnya untuk membuat pekerja, pembeli, dan ternak tetap nyaman.
Menurutnya, peternakan kambing perah lebih sustainable dibandingkan yang lain. Selain itu, susu kambing saat ini semakin memasyarakat dan mengalami peningkatan permintaan.